Benarkah Puasa Menjadikan Kita Lebih Sehat? (2)

1
75
Sumber: www.pexels.com/

0Shares
0

Salah satu anugerah nikmat dari Tuhan yang wajib kita syukuri adalah disyari’atkannya puasa sebagai salah satu rukun Islam. Puasa merupakan ibadah wajib yang dapat berfungsi sebagai salah satu terapi kesehatan yang mampu menyembuhkan penyakit yang bersifat fisik dan psikis. Berbagai penelitian telah mengungkap hal ini. Sebagaimana pesan Nabi, berpuasalah agar kamu sehat.

Kampusdesa.or.id–Acapkali yang tertanam dalam benak kita bahwa sehat itu bersifat fisik an sich, jika saya bertanya kepada anda semua:

“Apa Anda sehat?” maka persepsi yang tertanam dalam pikiran Anda otomatis mengarah kepada kesehatan tubuh. Bahwa Anda tidak linu-linu, sakit perut, tidak panuan, tidak sakit jantung, dan lain sebagainya.

Namun, pertanyaan krusialnya betulkah kesehatan itu hanya bersifat fisik saja? Sepertinya tidak. Sebab, orang yang tubuhnya sehat namun jiwanya tergangu tentu itu tidak bisa dikatakan sehat. Katakanlah, ketika dicek livernya, jantungnya, paru-parunya tidak ada problem maka itu bisa disebut sehat. Akan tetapi, manakala ia dalam keadaan tertekan, misalnya diberi deadline tahun sekarang tugas akhir skripsi, tesis, dan disertasinya wajib selesai. Jika tidak, wajib re-nim atau mengulang dengan kata lain tentunya membayar SPP lagi dan bagi yang ikut program beasiswa wajib mengembalikan sesuai MoU yang sudah disepakati dengan materai. Melihat kondisi seperti itu, mereka mendapat tekanan jiwa yang berlebihan lantas ia linglung dan bersifat ekslusif, tentunya mereka tidak bisa dianggap sehat.

Baca Juga: Peluang Ramadan di Saat Corona Melanda

Penulis tadi malam dijemput untuk meruqyah salah satu mahasiswa di kampus negeri Jember yang oleh keluarganya divonis mengidap kelainan seksual yang populer dengan sebutan Gay (laki-laki suka sama laki-laki), padahal kondisi tubuhnya dalam keadaan sehat wal afiat.

Ternyata, setelah diruqyah mahasiswa tersebut kemasukan jin perempuan yang suka kepadanya bernama Siti, dan sudah lama berdiam dalam tubuhnya sebelum bangun rumahnya. Jin tersebut sangat mencintai mahasiswa itu, sehingga ketika ia berniat untuk menikah dengan seorang pujaan hatinya, jin tersebut yang menghalang-halanginya. Alhamdulillah, setelah dilakukan ruqyah dan dialogis yang cukup dramatis akhirnya jinnya (si Siti) bersedia untuk keluar. Oleh sebab itu, konsep sehat itu bukan hanya menyangkut kesehatan fisik saja namun juga berkaitan kesehatan psikis juga.

“Bahwa tubuh dan jiwa pada diri kita, ibarat dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling interaksi serta sama-sama memiliki pengaruh yang cukup signifikan”

Lebih jauh lagi, bahwa tubuh dan jiwa pada diri kita, ibarat dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang. Keduanya ada bersamaan dan saling interaksi serta sama-sama memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Badan kita yang sehat memiliki kontribusi untuk memperoleh jiwa yang sehat. Namun sebaliknya, jiwa yang sehat juga mempunyai kontribusi besar untuk menjadikan tubuh yang sehat.

Sahdan, jargon bahwa “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” tidak sepenuhnya benar. Karena dilingkungan kita yang menunjukkan bahwa dalam tubuhnya sehat sekali tidak selalu terdapat jiwa yang sehat.

Baca Juga: Tiga Tingkatan Orang Berpuasa Menurut Imam Ghazali

Hal yang cukup sederhana saja, sesungguhnya badan kita ini tunduk kepada jiwa. Misalnya, kita menggerakkan tubuh kita untuk mengerjakan tugas akhir dan menyelesaikan skripsi, tesis, dan disertasinya, itu berarti otot tangan kita yang mengambil laptop, tunduk pada kehendak jiwa.

Terakhir, jika kita berbicara tentang kesehatan yang paripurna, kita tidak bisa meninggalkan korelasi dan keterkaitan jiwa dan badan. Puasa adalah salah satu terapi kesehatan yang mampu menyembuhkan penyakit yang bersifat fisik dan psikis, pasalnya orang yang berpuasa itu, selalu happy dan bahagia seperti yang pernah di sabdakan oleh Rasulullah Saw, “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kebahagian. Pertama bahagia ketika detik-detik mau buka puasa. Kedua bahagia saat detik-detik mau menghadap Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar sehat, seyogyanya kita berusaha optimal menyehatkan jiwa dan badan. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci utama kesehatan yang sesungguhnya. Salah satu cara untuk menjaga keseimbangan tersebut adalah dengan puasa.

Baca Juga: Benarkah Puasa Menjadikan Kita Lebih Sehat (1)

1 KOMENTAR

Comments are closed.