Belajar Pendidikan Karakter Kepada Luqman al-Hakim

0
183

ISLAM MERUPAKAN agama yang ajarannya bersifat syumuliah (menyeluruh) mencakup semua aspek dalam hidup manusia. Baik aspek lahir maupun batin, semuanya memiliki rambu-rambu dan diatur sedemikian rupa dalam Islam. Hal ini memang menjadi satu di antara tujuan esensial diturunkannya Islam kepada umat manusia. Sehingga dengan demikian, kehidupan umat manusia di pentas dunia ini dapat berjalan teratur, selaras, dan seimbang serta sesuai dengan fitrah kemanusiaannya.

Satu di antara aspek-aspek yang tak luput dari perhatian Islam adalah dalam hal mendidik anak. Mendidik anak adalah kewajiban yang melekat pada diri setiap orangtua. Hal ini karena anak merupakan amanat yang diberikan oleh Allah. Sebagai penerima amanat, orangtua harus menjaga dengan sebaik-baiknya apa yang diamanatkan itu. Oleh karenanya, mendidik anak harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Mengabaikan kewajiban ini berarti mengabaikan perintah dan mengkhianati amanat dari Allah SWT.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an, Hadits-hadits Nabi, maupun kitab-kitab karangan para ulama dan cendekiawan muslim yang membahas tentang konsep-konsep idelam mendidik dan membentuk karakter anak. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa, Islam merupakan agama yang menaruh perhatian besar pada masa depan umat manusia. Jika anak semasa kecilnya mendapatkan pendidikan yang baik dan benar, maka akan menjadi generasi yang berkualitas dan berkarakter kuat. Sebaliknya, jika anak semasa kecilnya tidak mendapatkan pendidikan yang sepatutnya, maka kedepannya akan menjadi generasi yang berkarakter lemah dan rendah kualitasnya.

Pada kesempatan kali ini, kita akan belajar dari sebuah kisah indah penuh dengan hikmah tentang bagaimana mendidik anak dengan benar yang dituturkan oleh Al-Qur’an dalam Surah Luqman. Kisah dalam surah ini menggambarkan bagaimana cara orangtua mendidik dan membentuk karakter anak dengan cara yang baik, ideal, dan tentunya selaras dengan syari’at Allah. Kisah tersebut tak lain adalah kisah orang yang namanya diabadikan oleh Allah sebagai nama dari surat ini, Luqman al-Hakim.

Pendidikan Luqman al-Hakim kepada anaknya dikisahkan mulai dari ayat 12 sampai dengan ayat 19. Nasehat pertama yang ditanamkan Luqman kepada anaknya adalah tentang bersyukur kepada Allah. Bersyukur pada hakikatnya adalah untuk kepentingan manusia sendiri. Allah SWT sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan syukur dari manusia. Pada ayat ke-12 ini, Luqman mengajarkan kepada anaknya kemahabesaran Allah. Tanpa syukur dari manusia pun, Allah tetap Maha Kaya dan Maha Terpuji. Bersyukur merupakan fondasi kebahagiaan dalam hidup. Orang yang hati dan jiwanya selalu bersyukur dan selalu mengembalikan semuanya kepada Allah, akan senantiasa diliputi dengan ketentraman. Kemampuan bersyukur hendaknya ditanamkan sejak dini pada diri anak. Agar mereka terbiasa menghargai pemberian yang diterimanya dan terbiasa berlaku rendah hati.

Nasehat kedua adalah menanamkan akidah dalam diri anak. Luqman memperingatkan kepada anaknya dalam ayat ke-13 ini, bahwa jangan sekali-kali menyekutukan Allah. Perbuatan menyekutukan Allah adalah sebuah kedholiman yang besar. Dholim dalam makna sederhanya adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempat yang semestinya. Menyekutukan Allah adalah perbuatan yang tidak menempatkan Allah sebagaimana mestinya. Allah adalah Tuhan pencipta dan pemelihara diri kita, dan kepada-Nya lah kita akan kembali. Maka semestinya Allah selalu hadir dalam setiap aktivitas kehidupan anak. Bukan malah “digantikan” dengan sesuatu yang lain yang sama sekali tidak layak dipersandingkan dengan Allah.

Nasehat ketiga adalah berakhlak baik kepada kedua orangtua. Berkat kedua orangtua lah anak bisa hadir dan hidup di dunia ini. Anak hendaknya melihat betapa payahnya perjuangan kedua orangtuanya dalam mengasuh dan mendidiknya, terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidiknya. Namun apabila orangtua justru mengajak kepada kezaliman, yakni menyekutukan Allah, maka anak dilarang untuk mengikuti keduanya. Nasehat ini dituturkan dalam ayat ke-14 dan 15. Dari sini dapat kita ketahui, bahwa mentatati kedua orangtua memang merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh anak. Namun ketaatan kepada kedua orangtua bukanlah ketaatan mutlak dan absolut. Karena hanya Allah saja lah yang berhak ditaati secara mutlak dan absolut.

Nasehat keempat tercurah dalam ayat ke-16 yaitu tentang menanamkan nilai-nilai taqwa dalam diri anak. Metode Luqman dalam menanamkan  takwa dalam ayat ini sungguh menarik. Ia menjelaskan taqwa melalui perumpamaan jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Melalui perumpamaan ini, dalam diri anak akan tertanam kesadaran bahwa Allah selalu mengawasinya, Allah selalu mengetahui setiap detail perbuatannya tanpa terkecuali. Kemudian Luqman mengakhiri nasehat ini dengan menyebutkan sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Pernyataan ini menjadi penguat perumpamaan yang dibuatnya.

Nasehat kelima (ayat ke-17) adalah menjalankan ibadah (sholat) dan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Melalui nasehat ini, Luqman ingin menanamkan kepada anaknya bahwa kewajiban menjalankan ibadah—mahdhah maupun ghairu mahdhah—harus pula disertai dengan amar ma’ruf nahiy munkar. Dari sini dapat diartikan bahwa kesalehan seseorang haruslah berdampak tidak hanya pada dirinya sendiri, melainkan harus berdampak pula pada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Dampak (manfaat) kesalehan tidak akan bisa terwujud tanpa adanya amar ma’ruf nahiy munkar. Akan tetapi, konsekuensi melakukan amar ma’ruf nahiy munkar sangatlah besar, anak akan mendapatkan tantangan dan hambatan baik dari dalam dirinya sendiri maupun masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, Luqman juga memperingatkan anaknya untuk bersabar terhadap apa saja yang akan menimpanya.

Nasehat keenam (ayat ke-18) adalah larangan agar tidak berlaku sombong dan bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan. Sikap sombong bukanlah hak manusia, karena sesungguhnya yang paling berhak sombong adalah Allah SWT. Sikap sombong pada dasarnya adalah akar dari kehancuran diri manusia. Karena sikap inilah yang menyebabkan manusia dijauhi dan dibenci sesamanya serta lupa kepada Tuhannya. Melalui nasehat ini, kiranya Luqman ingin menanamkan kepada anaknya bahwa segala yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah milik Tuhannya. Manusia hanya dititipi sementara. Maka dari itu, sungguh sebuah kezaliman jika manusia berbangga dan sombong akan apa yang dititipkan kepadanya.

Nasehat terakhir (ayat ke-19) Luqman menanamkan kepada anaknya untuk senantiasa bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Dalam ayat ini Luqman mencontohkan sikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan dengan perumpamaan sikap dalam berjalan, ia berkata “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” Perumpamaan ini mempermudah anak untuk memahami bagaimana cara bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Luqman al-Hakim di atas, dalam mendidik anak, orangtua hendaknya lebih memprioritaskan pada pembentukan karakter ketimbang prestasi akademik. Karena di era globalisasi ini, kemampuan untuk bersaing, bertahan hidup, dan beradaptasi pada setiap perubahan tidaklah ditentukan oleh kemampuan kognitif semata. Kekuatan karakterlah yang menjadi penentunya. Sepintar apapun anak, jika karakternya kerdil ia akan mudah terombang-ambing dan terseret kedalam pergaulan negatif. Bukannya menjadi investasi masa depan, anak justru menjadi bumerang bagi kedua orangtuanya. Na’udzubillah!.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here