Belajar di Tengah Alam Cemorokandang Malang

0
34

TK Islam Samudera Pakis dan Temboro mempunyai aktifitas jelajah alam sebagai bagian dari proses belajar anak-anak. Mengenal alam langsung menjadi kegiatan belajar yang penting agar anak melek potensi dan peluang. Mereka tidak hanya terpenjara di kelas-kelas yang tidak lagi peka realitas.

KampusDesa.or.id–Outing pada tanggal 20 Oktober 2018 kemarin terasa spesial. Mengajak anak-anak TK Islam Samudera Pakis dan Temboro belajar di alam bersamaan dengan tema ‘Binatang’. Enaknya ke mana? Kali ini kami coba menjelajahi sebuah desa sambil belajar tentang bercocok tanam organik dan kolaborasi antara hewan peliharaan dengan tanaman. Yang kami pilih adalah desa kami sendiri, yaitu Desa Cemorokandang.

Kedatangan rombongan anak-anak terdengar jelas dari dapur rumah saya, karena pertama-tama mereka menuju lapangan di belakang rumah saya untuk bermain-main sebentar dan berdoa bersama sebelum kegiatan. Setelah itu mereka menuju Green House milik warga di Jl. Palmerah I Vila Gunung Buring. Tempat ini menggunakan beberapa lahan kavling rumah kosong yang sebelumnya terlantar.

Dengan dipandu Bapak Andreas sang pengelola, anak-anak belajar tentang bercocok tanam organik dengan menggunakan tanah. Kegiatan di tempat ini diakhiri dengan mengajak anak-anak memanen cabe rawit. Tangan-tangan mungil itu cekatan sekali memetik buah-buah cabe yang merah ranum dari satu pohon ke pohon yang lain. Asyiik banget. Alhamdulillah, tidak ada insiden kepedasan!

Rute berikutnya lebih menanjak ke atas yaitu di Sentra Aquaponik yang dikembangkan oleh Perguruan Sanhikmah di Jalan Bandara Timika. Kali ini untuk belajar tentang bercocok-tanam organik dengan menggunakan air, yang lazim disebut Aquaponik.

Dipandu oleh Bunda Fitri dan rekan-rekannya, murid-murid TK saya dibimbing dari satu kegiatan kegiatan lainnya secara atraktif. Mulai dari melakukan pembibitan biji sawi di atas media tanam organik dengan pinset, memindahkan ke lokasi tunggu tunas, hingga memanen sawi di area Green House yang di bagian bawahnya dijadikan kolam pembiakan ikan.

Anak-anak jadi tahu fungsi kotoran ikan tersebut bagi kelangsungan hidup tanaman organik di atasnya. Maka mereka sangat bersemangat ketika diajak bersama-sama memberi makan ikan-ikan yang selalu bergerak lincah itu.

 

Anak-anak jadi tahu fungsi kotoran ikan tersebut bagi kelangsungan hidup tanaman organik di atasnya. Maka mereka sangat bersemangat ketika diajak bersama-sama memberi makan ikan-ikan yang selalu bergerak lincah itu. Ketika sudah capek, anak-anak disuguhi hasil olahan sayuran organik itu berupa gorengan tahu sayur dan minum susu kedelai. Benar-benar memuaskan!

Terakhir kami ajak anak-anak menuju empang ikan di tengah kebun Sengon di dukuh Kebalon di area persawahan yang cukup luas milik Mak Zen. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Namun desir angin semilir dan suara kecipak air sangat menggoda naluri bermain anak-anak.

Dengan dipandu Mas Al Fanu mereka menyusuri kebun Sengon sambil meniti jembatan goyang. Sebelum ‘nyemplung’ ke empang untuk menangkap ikan mereka bermain perosotan air dulu. Setelah itu mereka berlomba menangkap ikan nila di dalam air. Salah satu dari 4 petak empang yang tersedia memang sengaja diberi perahu buatan sendiri yang berasal dari ‘gelugu’ alias pohon kelapa. Walhasil anak-anak jadi berebut juga untuk menaiki dan mendayungnya. Ya ampun meriah dan hebohnya!

Tak terasa waktu pulang telah tiba. Ada yang sampai mau menangis karena tidak mau berhenti bermain. Seharian ini anak-anak belajar tentang banyak hal. Namun tidak terasa membosankan, karena dalam konteks praktek dan bermain di tengah alam. Tak percaya rasanya, semuanya dilakukan di desa kami sendiri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here