Belajar Bukan Hanya dari Sekolah, Tapi Buku

0
138
Para Penggerak Literasi Muda dalam Aksinya Perpus Jalanan Kecamatan Kembangbahu, Lamongan

Seorang kutu buku, sesibuk apapun, pasti bisa menyempatkan waktu, bahkan waktu itu banyak tersedia longgar bagi orang lain. Seorang yang benar-benar sibuk, masih ada waktu tersisa yang digunakan membaca. Bagi sebagian yang lain, meski banyak ruang kosong, tetapi serasa tidak punya waktu. Sesibuk apapun,

kampusdesa.or.id–Bagi sebagian orang yang sudah masuk kategori gila membaca, bukan hal yang luar biasa jika menghabiskan waktu berjam-jam kencan dengan buku. Bibir dan matanya bergerak, melarik setiap suku kata yang membaris kalimat. Mereka menikmatinya. Larut dalam setiap penggalan paragraf.

Lalu, apa kabarnya kita? Anak muda yang mengaku generasi milenial. Gadget jauh lebih menarik dan berwarna dari pada jilidan lembaran-lembaran. Yang kita tahu hanya sekedar berbalas pesan melalui aplikasi sosial media, atau mengunggah photo yang kita anggap paling hits dan menarik ratusan like. Tanpa sadar, berpuluh-puluh menit atau bahkan setengah hari hanya kita habiskan untuk mengotak-atik hp.

Bu Nyai pecinta wayang ini selalu tafakur berjam-jam saat membaca, tidak heran jika tulisan-tulisan yang beliau hasilkan syarat akan ilmu meski dikemas dalam bentuk cerita.

Kau tahu Khilma Anis? Penulis novel Hati Suhita yang belakangan ini booming di pasaran. Dia adalah wanita dengan segudang pekerjaan. Istri dan ibu dari dua anak, pemilik percetakan, pemilik toko, guru, sekaligus pengasuh pondok pesantren. Kegiatannya yang berjibun tidak menjadi alasan untuk tidak bermesraan dengan koleksi buku-bukunya. Bu Nyai pecinta wayang ini selalu tafakur berjam-jam saat membaca, tidak heran jika tulisan-tulisan yang beliau hasilkan syarat akan ilmu meski dikemas dalam bentuk cerita.

Aku banyak belajar bukan dari sekolah, tapi yah dari banyak membaca

“Aku banyak belajar bukan dari sekolah, tapi yah dari banyak membaca” Cerita bapak Hambali, laki-laki sepuh dengan segudang prestasi. Usia lanjut tidak menghalangi beliau untuk tetap membaca. Beliau datang ke PERPUSDA lebih dulu dari pada aku. Dengan langkah rentanya beliau berjalan menyusuri rak, dan kembali duduk dengan membawa kitab tebal, kumpulan hadis shohih bukhari.

Diskusi secara tidak sengaja dengan Bapak Hambali membuatku merasa kerdil. Di usia senjanya, beliau masih semangat berkarya. “Aku besok ke Jakarta, minta izin tulisanku. Aku nulis Al-Qur’an. Lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa” tutur beliau dengan sumringah. Pencipta logo kabupaten Lamongan ini adalah potret cinta yang penuh pada lembaran-lembaran ilmu. Seorang ulama, sastrawan, budayawan, dan guru teladan kebanggaan Lamongan. Semoga sehat selalu dan panjang umur, Pak.

Bagaimana dengan kita? Sudah mesrakah dengan ilmu? Sudah berapa buku kita cumbu? Pemuda penggerak adalah pembaca. Dan pemimpin hari esok adalah pembaca

 

Aviatus Sholikha (Mahasiswa PAI Unisda Lamongan, Aktivis Literasi)