Belajar Bahasa Inggris Tak Serumit di Sekolah

0
164

Sudah berapa tahun Anda belajar bahasa Inggris. Mana jaminannya, Mahir bahasa Inggris dari dalam kelas atau kemahiran Anda justru ketika mengambil kursus mandiri di luar kelas. Sejak SMP sampai dengan Perguruan Tinggi, saya tidak luput dari yang namanya diajari mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tingkatan yang beragam sesuai dengan jenjang pendidikan.

Charlotte Blackburn. Perempuan Amerika yang menjadi fasilitator Garuda Rising

He, he, he, barangkali saya yang terlalu beralasan karena saking bencinya atau malasnya ketika belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris boleh dikata satu dari pelajaran yang dihindari oleh banyak siswa. Tapi coba ingat-ingat teman sekelas dulu. Mereka bisa terlihat menguasai bahasa Inggris karena ada kegiatan tambahan, seperti kursus Bahasa Inggris, berbeda dengan yang mengandalkan pelajaran di kelas. Maaf jika observasi saya terlalu membenarkan saya yang tidak piawai bahasa Inggris. Padahal sampai perguruan tinggi pun saya selalu diajari bahasa Inggris.

Belajar di Sekolah Selalu Kehilangan Konteksnya
Saya coba contohkan pelajaran bahasa Indonesia. Sepertinya juga sama kasusnya. Kita belajar bahasa Indonesia sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Lalu siapa yang menjadi penulis ? Balik lagi ke hanya orang yang memang berbakat menulis yang akhirnya menjadi penulis ternama. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai usia memasuki jenjang perguruan tinggi yang menuntut kemampuan menulis, masih laris manis pelatihan-pelatihan menulis. Beberapa mahasiswa, banyak lo…, yang masih saja mengatakan selalu sulit memulai menulis. Sungguh anehkan, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita ?

Saya punya kisah menarik. Anak saya dulunya suka menulis dan tajam kata-kata puitisnya. Saat diminta tugas oleh gurunya membaca puisi dan lomba, justru disuruh mencari puisi-puisi yang ditulis orang lain. Ijin ingin menulis sendiri tidak diterima. Lagi-lagi saya berapologi, kesempatan menulis anak saya surut seiring mengerjakan tugas sekolah yang semakin menghimpit, termasuk tugas bahasa Indonesia juga.

Berdasarkan contoh apologetis tersebut, ada yang perlu diluruskan ketika sekolah mengajarkan bahasa. Pelajaran yang diberikan hari ini sepertinya tidak tersambung dengan dunia nyata. Belajar angin tetapi tidak pernah bersimulasi dengan angin sebenarnya, tapi disuruh menghapal atau latihan menjawab soal setelah diberi informasi dari bacaan tentang angin.

Pelajaran seperti itu tidak pernah membangun kembali pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan bisa hidup dan dikuasai ketika anak mampu membentuk pengetahuan baru dari hasil olah cipta.

Begitu juga dengan bahasa Inggris yang telah kehilangan konteks belajarnya. Pelajaran bahasa akhirnya bertujuan mampu menjawab soal dan penguasaan struktur dan gramatikal. Bahkan penguasaan tenses menjadi ujung tombak kualifikasi kemahiran bahasa Inggris. Cara-cara ini yang salah kaprah pooollll meskipun memang berguna. Namun, kemampuan itu merupakan pencapauan tertinggi yang melampaui kebutuhan praktis dan langsung dalam berbahasa. Ya, bagi kalangan akademisi kemampuan tersebut memang diperlukan ketika usaha yang bersifat praktis terpenuhi.

Berbahasa dan Budaya Komuniatif
Apa kebutuhan praktis dalam berbahasa. Ya, kebutuhan praktis berbahasa adalah berkomunikasi. Titik pangkalnya tidak lain adalah komunikasi lisan. Seseorang mampu berkomunikasi dengan orang lain. Yang paling utama begitu. Sesederhana itukah ? Ya. Coba kita lihat yang paling sederhana cara berbahasa dalam bahasa ibu. Kemampuan berbahasa yang paling utama adalah kemampuan lisan. Kemampuan bertutur dan memahami apa yang ditururkan bukan kemampuan membangun struktur bahasa yang ketat dan tertib gramatikal.

So, berbahasa tidak lain ya membudayakan komunikasi. Budaya yang paling awal adalah budaya tutur. Sama seperti kita berbahasa ibu. Kita selalu diajari bertutur, berinteraksi dengan bahasa tutur dan berkomunikasi semakin baik dengan bahasa tutur. Saat kita mendengarkan cerita dari ibu atau guru, kita sebenarnya juga sedang belajar bahasa. Kita diajari melafalkan ayah, ibu, bapak, maem, dengan penuh belepotan pun dalam rangka untuk menguasai lafal-lafal bahasa.

Bahkan tidak pernah kita menghafalkan kosa-kata (vocabulary), toh akhirnya kita mampu menggunakan bahasa ibu dengan baik. Kepentingan praktis yang dapat dikenali dan merupakan kebutuhan langsung pada bahasa Inggris nampaknya akan menentukan kemampuan menguasai bahasa Inggris.

Kemampuan berbahasa yang paling utama dan sebaiknya didahulukan ya kemampuan berkomunikasi. Bukan tentang gramatikalnya. Dackhin, seorang Selandia Baru mengatakan, orang-orang native tidak pernah ribut dengan aneka tensis. Charlotte, perempuan english empowering berkebangsaan Amerika juga berkata, “berbicaralah tanpa takut salah atau tidak sesuai dengan struktur bahasa Inggris yang baik, karena seorang native akan memakluminya dan berusaha menangkap apa yang kamu katakan.” Seorang native tidak akan mengevaluasi tentang gramatikalmu, tetapi lebih ingin menangkap pemahaman terhadap apa yang kamu ucapkan.

Keduanya mengibaratkan, saat dia berbahasa Indonesia yang agak belepotan, apakah kita sebagai orang Indonesia akan mengoreksi SPOKnya, ataupun teknik mereka berbicara. Tidak kan. Kita justru berusaha menangkap maksud bicaranya meskipun menurut kita apa yang diucapkan agak aneh, kurang pas dan spelling yang beda. Kita berusaha memahaminya dan bisa paham. Jadi begitulah belajar berbahasa. Belajar berbahasa Inggris yang berbicaralah sebagai praktik komunikasi.

Jadi, saya ingin berkisah di akhir tulisan ini. Saya di tahun terakhir ini belajar bahasa Inggris ke Charlotte Blackburn. Tidak banyak waktu pertemuan. Lebih banyak waktu yang saya habiskan di kelas-kelas zaman dulu. Kira-kira tidak sampai 12 kali pertemuan.

Hasilnya apa ? Ya…., saya telah berani berbicara bahasa Inggris. Super berani. Saya juga tidak menghafal kosa kata bahasa Inggris. Ada juga seorang mahasiswa akhir yang ikut klub Garuda Rising. Klub bahasa Inggris Gusdurian Malang diadakan setiap Senin malam. Belum sampai berpuluh-puluh pertemuan. Kira-kira 5 kali pertemuan, dia sudah percaya diri berkomunikasi, sementara dia bilang sudah sering mengulang kuliah Bahasa Inggris berkali-kali sepertinya merasa tidak bisa berbahasa.

Kita perlu menggarisbawahi. Berbahasa tidak lain adalah bertutur. Banyak latihan bertutur dari yang kita sukai. Kita bisa gunakan dari sumber yang bervariasi, tetapi tetap jangan lupa, sebisa mungkin berbicaralah, menirulah agar sumber bacaan atau apa yang kita dengar bisa pula kita lafalkan. Berbahasa adalah praktik berkomunikasi, sementara gramatikal dan tensis hanyalah diperlukan bagi orang yang ingin tes beasiswa atau kuliah ke luar negeri yang mensyaratkan skor toefl. Itulah intinya.

Jikalau bertahun-tahun kita belajar bahasa Inggris di sekolah tetapi tetap tidak bisa berbahasa, karena cara belajar kita terkungkung oleh buku, bukan tentang bahasa adalah ruang budaya komunikasi.

“Semoga para guru Bahasa Inggris segera menutup buku dan mencari buku-buku hidup tentang bahasa sebagai bahan belajar berkomunikasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here