Begitu Pentingkah Perasaan Cinta ?

0
102

Bukankah cinta syarat perkawinan ? Ah, barangkali tidak seperti itu. Toh ada cinta dalam perkawinan tanpa didahului oleh mencintai calon pasangan. Ada pula mencintai sebelum menikah nyatanya rasa cinta tak ditemukan saat usia pernikahan sudah memasuki usia puluhan tahun ? Kok bisa ?


DALAM tulisan kali ini, saya ingin menceritakan secuil kisah tentang kisah cinta dua sahabat saya. Saya mempunyai sahabat yang sangat akrab, sebut saja namanya Alfin. Alfin seumuran dengan saya, namun ia agak sedikit terlambat untuk menikah. Ia baru menikah di usia 33 tahun.

Namun sayangnya pernikahannya hanya seumur jagung, belum genap 3 bulan menikah, ia memutuskan untuk keluar dari rumah istrinya dan akhirnya bercerai. Dengan berbagai faktor penyebabnya, pada intinya Alfin merasa tidak mencintai istrinya. Padahal dari segi fisik istrinya ini lumayan cantik. Tapi meskipun cantik kalau tidak cinta, ya percuma, kata Alfin suatu ketika pada saya.

Adapun sahabat saya yang kedua adalah seorang wanita, sebut saja namanya Rina. Rina menikah di usia muda dengan seorang laki-laki dengan tanpa rasa cinta, karena si lelaki terus saja memaksa untuk menikah dengannya, hingga akhirnya ia menerimanya sebagai suami. Rina pun menjalani kehidupan dengan suaminya hingga lebih dari sepuluh tahun.

Ia baru sadar dan menyesal, kenapa dulu menerima untuk menikah dengan suaminya ini, karena sesungguhnya ia tidak merasa cinta dengan suaminya. Namun ia tak kuasa dan tak cukup nyali untuk melepaskan diri dari suaminya. Hari-harinya pun diisi dengan tangisan penyesalan. Ketika ia mencoba berusaha mencintai suaminya, hingga lebih dari sepuluh tahun menikah, ia tetap tidak bisa. Tidak ada chemistry yang tercipta antara suami istri, karena memang tidak ada rasa cinta. Mereka bersatu karena keterpaksaan situasi dan kondisi.

Dari dua kisah sahabat saya di atas, sesuai dengan judul di atas timbul pertanyaan di benak saya, “begitu pentingkah perasaan cinta pada dua insan berlainan jenis untuk hidup bersama?” dan jawabannya ada dua macam, bisa penting bisa juga tidak penting, tergantung motif apa dua insan itu untuk bersatu.

Jika motifnya ingin bahagia, tentu perasaan cinta itu sangatlah penting. Karena dengan cinta bisa membangun chemistry dan mood hingga terbangun menjadi soulmate antar dua insan. Cinta menjadi sumber energi mereka untuk saling memberi kasih sayang, perhatian dan pengorbanan. Dengan cinta, hidup pun menjadi bergairah dan bersemangat.

Cinta menjadi tidak penting lagi. Namun sesungguhnya hal itu justru menyakiti perasaan, karena kebahagiaan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Namun jikalau motif hidup bersama ingin hal yang lain, misalnya harta, kedudukan, bahkan keterpaksaan, tentu cinta menjadi tidak penting lagi. Namun sesungguhnya hal itu justru menyakiti perasaan, karena kebahagiaan adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Meskipun harta melimpah dan sejenisnya, kalau hati tidak bahagi, ya buat apa? Tidak ada gunanya.

Kebahagiaan lahir batin di dunia dan akhirat itulah harapan setiap manusia, seperti doa-doa yang selama ini kita panjatkan pada Tuhan. Dan kebahagiaan berumahtangga hanya bisa didapatkan oleh dua insan suami istri yang saling mencinta. Dengan cinta, yang buruk jadi baik, yang kekurangan jadi cukup, yang sederhana jadi mewah, yang dianggap tidak berharga justru menjadi hal yang luar biasa, dan yang tidak penting menjadi penting. Asalkan bersama orang yang dicintai dan mencintai, apapun yang terjadi tetap bahagia.

Menikahlah karena cinta, karena cinta adalah sumber energi abadi yang mampu menggerakkan turbin-turbin semangat dalam jiwa

Jadi kesimpulannya adalah, cinta adalah dasar yang paling penting untuk menikah. Menikahlah karena cinta, karena cinta adalah sumber energi abadi yang mampu menggerakkan turbin-turbin semangat dalam jiwa untuk menggapai harapan sehingga menghasilkan energi kebahagiaan tanpa batas.

Malang, 18 Mei 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here