Begini Cara Mudah Publikasi di Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi

0
177
Dekan FEBS Membuka Acara Pelatihan Penulisan Jurnal Internasional

KampusDesa, Makassar– “Publikasi merupakan tuntutan dunia akademik. Jadi memang tidak alasan untuk menolak,” demikian jelas Bayu Taufiq Possumah dalam Pelatihan Penulisan Jurnal Ilmiah Internasional Bereputasi yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar (24/10/2018).

Pria kelahiran 15 Januari 1974 ini menyebutkan beberapa alasan mengapa seseorang perlu rajin melakukan publikasi, bahkan setelah menjadi profesor sekalipun. Misalnya: untuk dikenal orang dan komunitas ilmiah, demi karir yang lebih baik, memiliki ide dan pengetahuan untuk dibagikan, persyaratan penilaian (KPI), merupakan kewajiban institusi, suka bepergian, generasi interface, mendapatkan uang (insentif). Diakuinya, sebagai pengajar di Universiti Malaysia Trengganu, ia berkewajiban publikasi 3-4 jurnal terindeks Scopus per-tahunnya. Tentu hal itu mendapatkan fasilitas dari kampus.

Doktor Ekonomi Islam alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2013 ini menjelaskan bahwa di Malaysia juga ada tridharma perguruan tinggi, laiknya di Indonesia. “Di sana juga ada pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sampai-sampai ada yang namanya Research University (RU) dan Teaching University (TU). Di RU, porsi untuk riset dan pengajaran seimbang, yakni 50% dibanding 50%. Yang termasuk RU antara lain: UKM, University of Malaya, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Universiti Sains Malaysia. Kalau di TU, porsi pengajaran mencapai 70-80%, sementara bagian riset lebih kecil.

Baca juga : Unismuh Dukung 652 Dosen Segera Menjadi Profesor

Pembicara dengan puluhan publikasi di jurnal terindeks Scopus ini menjelaskan cara mudah untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi. Pertama, memilih jurnal yang tepat. “Jangan sampai salah target jurnal,” pesannya. Kedua, ikuti guideline dan gaya selingkung jurnal. Ketiga, ikuti proses peer-review. Keempat, turuti respons tim penilai (referees). Kelima, nikmati setiap proses penolakan. Keenam, persiapkan langkah apa saja yang perlu dilakukan setelah manuskrip diterima. Ketujuh, publikasi jurnal.

Para peserta foto bersama dengan para narasumber

Reviewer untuk beberapa jurnal Internasional terindeks Scopus ini mengemukakan pula beberapa strategi publikasi di jurnal berimpak tinggi (high-impact journals). Misalnya: memutuskan dimana mengirimkan jurnal, mintalah umpan-balik dari sejawat, tulislah outline lalu organisasikan pemikiran sebelum menuliskannya, bertindaklah seolah Andalah reviewer sekaligus pembaca manuskrip tersebut, hindari overinterpretasi, bersinergilah dengan editor jurnal. “Turutilah nasihat editor dan reviewer. Lakukan revisi sesuai yang diminta sesegera mungkin,” ujarnya di hadapan tiga puluhan peserta.

Baca juga : Ini Cara Unismuh Makassar untuk Go Internasional

Peraih medali emas sebagai presenter terbaik dalam konferensi ISICAS di universitas Kyoto, Jepang tahun 2014 ini mengungkapkan beberapa kriteria penting tentang manuskrip yang baik. Pertama, originalitas. Kedua, kedalaman pengetahuan amat signifikan di bidangnya. Ketiga, menggunakan metode akurat dan konklusi tepat. Keempat, tidak menyalahi aturan dan tidak melanggar standar etis. Pelbagai problematika terkait etik contohnya: akurasi dan keaslian, plagiarisme, perlakuan etik terhadap manusia dan hewan coba, pernyataan tentang credit dan conflict of interest. Kelima, keterbacaan. “Sebisa mungkin, tulisan kita enak dibaca. Bahkan kalau perlu orang awam pun bisa paham,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Ismail Rasulong, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan gairah dosen dalam melakukan publikasi di jurnal Internasional bereputasi. Senada dengan Dekan, Agusdiwana Suarni, Kepala Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, mengemukakan bahwa kegiatan ini berpotensi meningkatkan akreditasi fakultas dan universitas. “Ke depannya, kami berharap dapat menjalin kerjasama, sinergi, dan kolaborasi, terutama dalam hal riset dan publikasi,” ujar dosen alumnus International Islamic University Malaysia (IIUM) Malaysia saat konfirmasi.

Kegiatan selama enam jam yang berlangsung di Aula Mini Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Matinya listrik selama beberapa menit usai ishoma tidak mengurangi antusiasme peserta pelatihan. Terbukti mereka tetap bertahan hingga acara usai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here