Bakti Kepada Orangtua, Perjalanan Cinta yang Tidak Akan Pernah Usai

0
71

0Shares
0

“Nggene mbah utine ki lak macak sing apik, ganti klambi kono (ke tempat nenek itu dandan yang bagus, ganti baju sana)” , kata ibu. Tapi kan beliau sudah ndak bisa liat kita lagi, batinku, kala itu. Tanpa banyak bicara, aku hanya mengiyakan dan langsung mengganti baju dan bersiap untuk berangkat. Kami berangkat bersama, hanya berjalan kaki, karena tempat beliau tidak jauh. Pun jua, hati kami akan selalu dekat. Tiba-tiba saja…

Kampusdesa.or.id–Ramadhan telah kembali menyapa kita tahun ini. Waktu begitu cepat berlalu. Setiap tahunnya, pasti ada kesan yang melekat, begitu pula tahun ini yang masih saja erat kaitannya dengan COVID-19. Bagaimanapun, Tuhan selalu memberikan kita pelajaran di setiap keadaan, andai kita pandai menelaahnya.

Berbicara perihal pelajaran, tiba-tiba saja aku teringat bagaimana cara ibu merawat embah. Tidak banyak bicara, santun, teduh. Ah sejuk.

Ibu selalu mengajarkan kami untuk selalu mendahulukan mbah kung dan mbah uti. Apapun itu. Dan kini, hal itu telah melekat kepada kami, putra putrinya.

“Lak mari masak ki, wong tuone dijupukne disik (kalau setelah masak, orangtua diambilkan duluan)”. Bukan hanya itu, setiap kali ibu selalu mengajarkan kami betapa pentingnya sopan dalam berbicara dan santun dalam bertingkah laku.

Mbah kung yang memang sudah sepuh, pendengarannya tidak lagi sebaik dulu. Ketika ibu berbicara, seringkali harus mengulang beberapa kali. Aku memperhatikan. Tidak ada keluhan sama sekali. Jika aku melihat salah satu adik ibu yang mengeraskan suaranya ketika berbicara dengan embah, maka yang ibu lakukan adalah mendekatkan lisannya ke telinga mbah kung. Ah, sendu.

Belum lagi ketika ibu selalu menjadi pendengar yang baik untuk mbah kung di tengah kesibukan pekerjaannya, juga mengurus kami. Ditambah lagi, kami yang seringkali membuatnya jengkel dan kewalahan.

Aku masih memperhatikan bagaimana cara ibu merawat mbah kung. Seringkali ibu menengok ke kamar mbah kung, membetulkan selimutnya, juga mengganti gelas air putih yang sudah habis dan mengisinya kembali.

Benar saja jika orangtua merupakan role model yang paling tepat bagi putra putrinya. Mengapa demikian? Dahulu, mbah buyut (ibu dari mbah uti), kami biasa memanggil beliau dengan mbah yut, ketika masih ada, mbah uti pun melakukan hal yang sama. Meski rumahnya berbeda, tidak jarang mbah uti membuatkan masakan sesuai dengan keinginan mbah yut.

Bahkan setiap pagi pun, mbah uti sering bertanya kepada mbah yut perihal masakan apa yang diinginkannya nanti. Ah, romantis sekali. Aku masih mengingat bagaimana mbah uti begitu mencintai ibunya, persis bagaimana ibuku berbakti kepada mbah kung dan mbah uti dengan cintanya yang melimpah ruah.

Tiada sedikitpun keluh kesah. Semua dilakukannya hanya untuk mengharap ridlo dari Sang Maha Abadi. Seringkali aku berpikir, bagaimana perempuan bisa setegar itu. Lantas tiba-tiba saja hatiku bertanya, sanggupkah kelak aku berbakti sedemikian cintanya sebagaimana ibuku kepada mbah kung dan mbah uti?

Lagi-lagi teladan memang sangatlah penting. Meski manusia tidak mungkin tanpa cela, tapi aku mengantongi banyak sekali intisari kehidupan dari mbah kung dan mbah uti. Utamanya adalah bagaimana bisa mendidik putra dan putrinya agar bisa menjadi sedemikian cintanya kepada beliau. Lima putri dan satu putra, dan semuanya berhasil. Bahkan salah satu menjadi penghafal al-Quran.

Selain itu, aku juga belajar perihal ibadah yang akan dihisab pertama kali kelak, iya shalat tepat waktu. Seringkali kami lari terbirit-birit ketika mendengar sandal mbah kung berjalan menuju kami. Padahal waktu itu kami masih bermain-main dan menonton televisi. Iya, anak kecil jaman dulu bukankah hanya seperti itu? Belum ada smarthphone, apalagi mobile legend dan tik-tok.

Mbah kung sangat keras jika perihal shalat. Selalu mengajarkan kami fii awaali waqtiha (di awal waktu). Jika mbah kung selesai shalat dan wirid (padahal wiridnya lama sekali) masih ada saja yang belum shalat wajib, ya siap-siap saja mendapatkan teguran keras sepanjang hari.

Belum lagi ketika kami murajaah namun suaranya kurang lantang. Pernah suatu ketika kami saling menyimak satu sama lain (saya bersama adik-adik). Lalu mbah kung menuju ke tempat kami. Langsung saja kami ditegur karena suara kami kurang jelas dan keras.

Secara tidak langsung, apapun yang mbah kung dan mbah uti ajarkan kepada ibu telah mendarah daging dalam diri kami. Dan kini, hal itupun mengalir dalam diri kami. Iya, teringat jelas sedetail apapun itu, kami ingin mencontoh perilaku-perilaku baik beliau.

Hari ini kami hendak berkunjung. “Nggene mbah utine ki lak macak sing apik, ganti klambi kono (ke tempat nenek itu dandan yang bagus, ganti baju sana)” , kata ibu. Tapi kan beliau sudah ndak bisa liat kita lagi, batinku, kala itu. Tanpa banyak bicara, aku hanya mengiyakan dan langsung mengganti baju dan bersiap untuk berangkat. Kami berangkat bersama, hanya berjalan kaki, karena tempat beliau tidak jauh. Pun jua, hati kami akan selalu dekat.

Lima menit kemudian kami tiba. Teduh nan damai. Seperti inikah yang disebut tempat istirahat? Sebelum masuk, kami mengucapkan salam kepada para leluhur kami, juga kepada mbah uti. Tampaknya beliau senang karena hari ini kami berkunjung. Kami membawa bunga sedap malam untuk tempat istirahat mbah uti.

Ternyata aku salah, mbah uti bahkan lebih dari sekedar bisa melihat kami. Tentu ruhnya bahagia melihat kami berkunjung untuk sekedar menyampaikan rindu. Kini, hanya tersisa mbah kung yang menjadi penyejuk hati kami, dan kami berharap beliau sehat selalu dan panjang umur.

Mbah uti telah lama bertemu dengan Sang Maha Cinta, lima tahun yang lalu. Iya, saat tiba-tiba aku mendapatkan kabar bahwa beliau telah tiada. Sangat tiba-tiba, karena sedari pagi beliau baik-baik saja. Begitulah ketika maut menjemput, tidak ada yang bisa menawar, juga tidak akan pernah mungkin bisa diprediksi.

Lagi-lagi aku teringat bagaimana beliau mengepang rambut panjangku sembari bercerita tentang banyak hal. Mengganggu beliau ketika memasak, serta mengadu padanya ketika aku dimarahi ibu. Ah, bagaimana rindu bisa semenyakitkan ini.

Bagaimanapun, rindu yang paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada, karena kita tak lagi bisa menggapainya, melainkan hanya dengan dekapan do’a yang mulia sebagai wujud bakti kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here