Bakar Motivasi Mahasiswa, PGMI UNISDA Lamongan Adakan Studi Observasi Ke Madrasah Inklusi

0
175

Selalu ada perjuangan dalam sebuah pencapaian terbaik di hari ini. Begitu juga dengan MI Terpadu Ar-Roihan, Lawang, Kabupaten Malang. Bermula hanya sebuah madrasah diniyah dengan santri satu orang, dengan ketekunan dan berprinsip pada semangat melayani, Lailil Qomariyah, akhirnya berhasil mendirikan MI percontohan.


Rabu, 4 April menjadi hari spesial bagi para dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Pasalnya, pada hari itu mereka berkesempatan menimba ilmu tentang berbagai hal terkait pendidikan inklusi di madrasah ibtida’iyah langsung dari sumbernya. Lebih spesialnya lagi, MI yang dirujuk pada kegiatan ini adalah MI Terpadu Ar-Roihan, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang yang merupakan MI inklusi percontohan Kementerian Agama.

Kegiatan yang diinisiasi oleh salah satu tim dosen PGMI, Adhita Dwi Handayani, ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan motivasi mahasiswa Prodi PGMI tentang pengelolaan MI inklusi. “Supaya mereka memiliki wawasan luas tentang pengelolaan MI yang baik dan motivasi untuk menjadi guru profesional semakin meningkat,” Ujar Adhita di sela-sela kegiatan.

Rombongan studi tour ini terdiri dari 9 orang dosen dan 35 mahasiswa. Mereka berangkat dari UNISDA pukul 04.00 WIB dan sampai di lokasi pada pukul 07.30 WIB. Rombongan disambut langsung oleh Kepala Madrasah MIT Ar-Roihan, Lailil Qomariyah, M.Pd beserta jajaran dewan guru.

Kegiatan dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama adalah pembukaan. Kedua adalah observasi keliling ke kelas-kelas. Ketiga tanya jawab dan sekaligus penutup. Pada sesi pembukaan Lailil Qomariyah selaku tuan rumah dalam sambutannya berusaha membakar semangat dan rasa penasaran rombongan. Ia menceritakan awal mula perjuangannya dalam mendirikan dan mengembangkan MIT Ar-Roihan.

Lailil menuturkan, bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan totalitas dan integritas. Orientasinya adalah harus benar-benar mengabdi dan memberkan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada peserta didik bagaimanapun kondisinya.

Lailil menuturkan, bahwa untuk menjadi guru dibutuhkan totalitas dan integritas. Orientasinya adalah harus benar-benar mengabdi dan memberkan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada peserta didik bagaimanapun kondisinya. “Pada awalnya, madrasah ini adalah madrasah diniyah. Waktu itu murid saya hanya satu orang. Meskipun begitu, tetap saya perlakukan secara profesional. Saya buatkan jadwal, buku penghubung dengan orangtua, kurikulum, walaupun hanya satu orang. Berkat layanan profesional yang saya berikan. Lama-lama kepercayaan masyarakat meningkat. Karena rumah saya sudah tidak bisa menampung santri lagi, akhirnya pekarangan belakang rumah saya dirikan gedung untuk menampung. Semakin tahun semakin bertambah sampai akhirnya para wali santri sepakat meminta agar saya mendirikan madrasah,” kenangnya.

Lailil menambahkan, bahwa sejak berdiri MIT Ar-Roihan menerima semua calon peserta didik yang mendaftar meskipun memiliki kebutuhan khusus. MIT Ar-Roihan juga tidak mengadakan tes masuk. Peserta didik dites justru setelah resmi menjadi siswa. “Kami menerapkan model pendidikan berbasis multiple intelegences, jadi siswa kami kelompokkan berdasarkan kecerdasan yang dimiliki. Bagi kami tidak ada siswa bodoh. Semua cerdas dan memiliki potensi khas masing-masing. Tugas kita sebagai pendidik adalah memfasilitasi dan mendukungnya. Strategi ini cukup efektif. Siswa kami selalu berhasil menjurai berbagai event lomba. Bahkan sampai ke Singapura.”

Usai acara seremonial, rombongan diajak berkeliling melihat proses pembelajaran di kelas-kelas. “Di sini total ada 60 siswa ABK (anak berkebutuhan khusus), setiap anak ABK didampingi oleh satu guru pendamping. Jadi di dalam kelas ada dua guru” ujar Redite Kurniawan, guru mata pelajaran Bahasa Inggris MIT Ar-Roihan.

Puas berkeliling, rombongan diajak menikmati coffe break sejenak. Acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Tidak hanya mahasiswa, namun para dosen juga antusias bertanya. Berbagai pertanyaan dilontarkan. Satu di antaranya adalah Lindra Nur Khanifah yang menanyakan mengapa siswa di sini sangat betah dan senang di sekolahan.

Kami buat sistem lesehan supaya mereka bisa bebas bermain dan bersosialisasi. Dunia mereka ada dunia bermain. Jangan rebut itu dari mereka

“Jadi di madrasah ini kami usahakan meminimalisir kesan-kesan formal. Bu Lindra dan adik- adik mahsiswa bisa saksikan sendiri tadi di kelas. Pada waktu guru menjelaskan, susunan meja tidak berbaris seperti pada umumnya, tetapi berkolompok. Bahkan ada juga beberapa siswa yang sambil tiduran mendengarkan penjelasan guru. Misalnya juga di kelas satu, “kami buat sistem lesehan supaya mereka bisa bebas bermain dan bersosialisasi. Dunia mereka ada dunia bermain. Jangan rebut itu dari mereka,” papar Lailil Qomariyah.

Kegiatan diakhiri dengan ramah tamah yang sebelumnya didahului dengan penyerahan sertifikat dan cindera mata serta swafoto bersama. Tepat pukul 12.00 rombongan Prodi PGMI UNISDA Lamongan meninggalkan MIT Ar-Roihan (SP).

Editor : Mohammad Mahpur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here