Bahasa Indonesia: Bahasaku dan Bahasa Kita Semua

0
213
Presiden Joko Widodo saat di Forum Titik Temu. Foto oleh Antara diambil dari https://nasional.kompas.com

Meski terlambat, pengakuan dan kebijakan penggunaan Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional oleh Presiden RI Joko Widodo melalui Perpres Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia, adalah semangat kesadaran poskolonialisme. Tantangannya, apakah para Internasionalis Indonesia, berani melawan diri sendiri dari yang semua sangat percaya diri berbahasa Inggris, kemudian membuka kanal, atas nama Bangsa Indonesia, kami akan menggunakan Bahasa Indonesia. Penerapan Bahasa Indonesia sebagai praktik bahasa internasional musuhnya adalah diri kita sendiri. Bagaimana dengan Anda?

Kampusdesa.or.id–Patut kiranya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, hidup dan tinggal di negeri tercinta Indonesia ini. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa kita harus bersyukur sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dan juga banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai upaya mensyukuri nikmat tingga di Indonesia ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai sebuah bangsa, bagaimanapun kita tidak boleh merasa rendah diri dan minder, justru seharusnya kita bangga dan percaya diri sebagai bagian dari bangsa ini.

Perbedaan adat istiadat, agama, ras, suku bangsa, dan bahasa antar tiap daerah di Indonesia yang beraneka ragam adalah kekayaan yang tak ternilai harganya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang terhimpun dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa sejarah “Sumpah Pemuda” telah menjadi tonggak dasar persatuan bangsa Indonesia yang berbeda-beda ini. Sumpah Pemuda telah memberikan makna untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 merupakan ikrar dari berbagai organisasi kedaerahan yang merasa memiliki kesamaan tanah air, bangsa, dan bahasa.

Bahasa Indonesia sebagai salah satu bagian yang disepakati dalam Sumpah Pemuda menjadi bahasa persatuan, ketika para pemuda mengikrarkan diri, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”. Kemudian dalam perkembangannya bahasa Indonesia dikukuhkan menjadi bahasa resmi negara, pada tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, yang tertuang dalam UUD 1945 pada Bab XV, Pasal 36, yang menyatakan bahwa, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara digunakan sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

Pada saat ini bahasa Indonesia terancam oleh bahasa lain, baik secara eksternal dari berbagai bahasa asing/luar negeri maupun secara internal oleh bahasa daerah dan bahasa gaul atau bahasa alay ala anak-anak muda dan artis.

Pada saat ini bahasa Indonesia terancam oleh bahasa lain, baik secara eksternal dari berbagai bahasa asing/luar negeri maupun secara internal oleh bahasa daerah dan bahasa gaul atau bahasa alay ala anak-anak muda dan artis. Bukan bermaksud menyalahkan orang-orang yang menggunakan bahasa asing, bahasa daerah bahkan bahasa gaul atau bahasa alay dalam komunikasi kesehariannya, namun penggunaannya hendaknya secara proporsional disesuaikan dengan situasi, kondisi, waktu dan tempat.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks komunikasi resmi dan ilmiah haruslah menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah kebanggaan nasional yang merupakan jati diri bangsa yang harus tetap dipertahankan, dilestarikan dan dibiasakan untuk digunakan dalam komunikasi, baik komunikasi lisan maupun tulisan. Oleh sebab itu bahasa Indonesia diharapkan dapat menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan negara dan menjadi sarana pemersatu, identitas, dan wujud eksistensi bangsa Indonesia, bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang harus dikuasai dan digunakan oleh bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia dengan keanekaragaman suku bangsa yang juga memiliki bahasa daerah yang beranekaragam pula, berpotensi menghadapi masalah perpecahan bangsa dikarenakan karena masalah komunikasi. Bayangkan apabila setiap daerah di Indonesia menggunakan bahasa daerahnya masing-masing dalam komunikasi dengan suku bangsa yang lain, tentunya akan kesulitan dalam memahaminya. Dengan adanya bahasa Indonesia yang telah disepakati sebagai bahasa nasional oleh semua suku bangsa yang ada di Indonesia, kendala berkomunikasi bisa diatasi dan perpecahan dapat dihindari, karena suku-suku bangsa di Indonesia merasa satu.

Adanya bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda dan ini adalah sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Bersyukur kita memiliki bahasa Indonesia yang dapat menyatukan seluruh bahasa-bahasa daerah di indonesia yang jumlahnya sangat banyak sekali sehingga dapat berkomunikasi dengan baik antar suku bangsa di Indonesia. Adanya bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda dan ini adalah sebuah kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengar perlu dikembangkan dan diajarkan kepada para generasi muda, untuk dapat berkomunikasi secara efektif dalam pergaulannya. Selain itu, perlu ditanamkan dan dibudayakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada generasi muda, selain untuk membentengi mereka dari bahasa gaul atau bahasa alay, juga sebagai sebuah kompetensi dasar yang wajib dipahami dan dimengerti, sebelum mereka belajar bahasa yang lainnya.

Di sisi lain bahasa Indonesia juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan era saat ini dengan mampu menjawab kebutuhan kosakata-kosakata dalam bahasa Indonesia terhadap kosakata-kosakata baru yang belum ada di bahasa Indonesia.

Sebagai penutup tulisan ini sekali lagi saya mengingatkan bahwa kita hendaknya bersyukur memiliki bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan wujud bersyukur itu, kita hendaknya memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara efektif, baik dan benar karena bahasa Indonesia adalah bahasaku dan bahasa kita semua.

SHARE
Previous articleKeluarga Digital di Era Industri 4.0 (Bagian 1)
Next articleKeluarga Digital di Era Industri 4.0 (Bagian 2)
Abd Azis Tata Pangarsa. Lahir di Malang, 28 Januari 1984. Dosen STAIMA Al Hikam Malang, Guru MI Miftahul Abror Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Program Pascarjana S-3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretaris PCNU LP Ma’arif Kab. Malang. Penulis buku; Guru Juga Manusia: Catatan Harian Seorang Pendidik dan Penyunting buku: Merawat Nusantara, Menumbuhkan Kembali Spirit Persatuan dalam Kebhinekaan. Kontributor artikel di beberapa buku. Menjuarai berbagai even lomba guru berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional. Dapat dihubungi di Jl. Joyo Raharjo I/ 235 K Merjosari Kota Malang. HP dan WA: 082331783484. Facebook:Azis Tatapangarsa, IG:Azis Tatapangarsa, Email:tatapangarsa@yahoo.co.id.