Ayat-ayat Toleransi Apakah Penting?

0
703

Akhir-akhir ini teloransi kebangsaan terus menjadi perbincangan menarik  dan memikat banyak kalangan. Hal ini bukan karena isu tersebut relative baru atau kerap dibahas, akan tetapi munculnya peristiwa demi peristiwa intoleransi vis a vis toleransi di berbagai belahan dunia membuat mata hati manusia rindu akan hadirnya ayat-ayat toleransi dan perdamaian, bukan permusuhan.

Kampusdesa.or.id- Kasus terbaru intoleransi vis a vis toleransi adalah munculnya film fitnah dan ayat-ayat cinta. Sekilas, tanpa harus melihat film-nya dulu pun, kita bisa menilai dua film itu amat kontras satu sama lain. Setidak-tidaknya, film pertama memiliki kesan menebar fitnah: sedangkan film kedua memberi pesan cinta.

Kedua film itu sama-sama menghebohkan, tetapi sambutan film pertama tak sebaik film kedua, setidaknya di Indonesia. Hati manusia se dunia menjawab, karena film pertama menebar intoleransi dan kebencian.

film yang disutradarai dan diproduksi oleh Greet Wilders, pemimpin partai sayap kanan belanda, yang berdurasi 15 menit tersebut, seolah sengaja “Menantang” umat Muslim sedunia.

Fitnah, film yang disutradarai dan diproduksi oleh Greet Wilders, pemimpin partai sayap kanan belanda, yang berdurasi 15 menit tersebut, seolah sengaja “Menantang” umat Muslim sedunia. Wilders yang juga anggota parlemen Belanda (Tweede Kamer) dengan blak-blakan menghina, menjelekkan, merendahkan, dan melecehkan agama Islam.

Bukan hanya menghina Nabi Muhammad Saw sebagaimana dilakukan Koran Denmark, Jyllands Posten, beberapa waktu lalu. Namun, Wilders juga merendahkan Al-Qur’an dan Islam sepanjang Film tersebut. Dalam film itu Al-Qur’an merupakan kitab yang fasis dan Islam tidak cocok dengan demokrasi. Al-Qur’an tak ubahnya Mein Kampf-Nya Hitler yang menghasut dan melakukan kebencian dan pembunuhan.

Film itu kemudian ia tutup dengan sebuah kesimpulan: “Stop Islamisasi dan Bela Kebebasan Kita.” Dia lalu menasihati umat  Islam  untuk menyobek separuh Al-Qur’an bila ingin hidup di Belanda. Dengan begitu lengkaplah sudah penghinaan Wildres terhadap Islam. Karena, Al-Qur’an dan sunnah/Hadits merupakan dua sumber utama pedoman umat Islam.

Dua Pendekatan:  Di tengah-tengah godaan intoleransi oleh film Fitnah, kaum Muslimin mungkin bisa sedikit lega dan bahagia dengan hasil penelitian sebuah lembaga survey terkemuka di Amerika Serikat, Gallup mengungkap relasi Islam, Muslim, dan terorisme. Survei itu menemukan bahwa mayoritas kaum Muslimin menolak radikalisme, apa lagi terorisme. Mereka juga mengutuk seragan 11 September 2001 di New York dan Washington serta serangan teroris selanjutnya, seperti di Bali, Madrid, dan London.

Survei itu juga menemukan peningkatan semangat ke-Islaman di banyak kalangan Muslimin sekarang ini tidak diterjemahkan ke dalam dukungan kepada radikalisme dan terorisme. Mayoritas terbesar kaum muslimin di muka bumi ini.

Penelitian dan temuan-temuan ini, secara menyakinkan membantah pandangan politisi dan akademis Barat yang mempersepsikan Islam sebagai sumber pokok radikalisme dan terorisme kaum Musimin di segala penjuru dunia. Dalam mengkaji Islam, secara umum, kita perlu berangkat sekurang-kurangnya dari dua pendekatan, yakni historis dan normative. Memilih satu di antara keduanya adalah cara yang gegabah. Demikian pula, dalam membaca dinamika Islam di era konteporer seperti saat ini.

Secara historis, lembaran sejarah umat Islam membuktikan, siapa pun yang keluar dari jalur toleransi, yang bersangkutan terjebak dalam klaim makna Al-Qur’an yang dianggap paling benar. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berujar, Al-Qur’an hanyalah tulisan yang tertera dalam mushaf, tidak bisa berbicara dengan lisan, melainkan harus ada yang memahaminya.

Ungkapan yang kurang lebih sama pernah disampaikan Imam al-Ghazali, satu ayat dalam Al-Qur’an bisa mengandung lebih dari 60.000 pemahaman. Ungkapan dua tokoh besar dalam sejarah Islam di atas setidaknya menegaskan perihal kekayaan makna Al-Qur’an, sekaligus pentingnya bersikap toleran dalam “memaknai” teks kitab suci ini.

Secara akademik, kekayaan makna Al-Qur’an yang tak terbatas sudah menjadi fakta historis yang tak terbantahkan. Sekian banyak karya intlektual yang megkaji kitab suci umat Islam ini. Baik karya-karya yang dilahirkan umat Islam sendiri atau para pemerhati Islam. Antara satu karya dan karya yang lain bahkan acap bertentangan.

Namun pastinya, semua itu tidak “menghabiskan” makna Al-Qur’an. Tak terkecuali di Indonesia, ilmu tentang Al-Qur’an sampai sekarang masih dipelajari secara serius di berbagai lembaga ke-Islaman, baik di pesantren, perguruan tinggi maupun institusi lainnya. Pemandangan serupa dipastikan akan berlanjut dalam beberapa tahun, atau bahkan beberapa abad ke depan.

Koneks dan Kepentingan: Kajian Al-Qur’an dalam konteks tertentu memang perlu dikritisi ulang. Mengingat kajian-kajian yang ada acap hanya terpaku pada persoalan-persoalan masa lalu dengan semua persoalan yang ada. Di sini dapat ditegaskan, bukan  masa lalu atau karya-karya mereka yang menjadi persoalan. Titik persoalannya justru bagaimana kita menanggapi, menggunakan, dan meneladani karya-karya tersebut untuk kemajuan dan perubahan menuju yang terbaik.

Bukan hanya “bunyi” Al-Qur’an yang menjadi persoalan, melainkan bagaimana kita menanggapi, menggunakan, dan meneladani cara mereka “membunyikan” Al-Qur’an. Titik krusial dari pemahaman seperti ini adalah karena tidak melibatkan konteks kekinian dengan semua persoalan yang ada sebagai bagian tak terpisahkan dari proses “Pembunyian” Al-Qur’an. Hingga kerap “Bunyi” Al-Qur’an bersebrangan dengan “irama-irama” yang sudah menjadi ciri khas bangsa ini.

Kalangan islamis, contonya menghendaki negeri ini menjadi Negara Islam, sesuai dengan “Bunyi” Al-Qur’an yang mereka “bunyikan” sendiri. Pada tahap ini, menjadikan konteks kekinian, konteks kebangsaan, dan konteks keindonesiaan sebagai bagian tak terpisahkann dari proses “pembunyian” Al-Qur’an  adalah sebuah keniscayaan yang perlu terus dilakukan, hingga “bunyi” Al-Qur’an selaras dengan irama kebangsaan dan keragaman.

Tentu saja, masih akan kita jumpai unsur subjektif kasih atau keberpihakan terhadap konteks-konteks tertentu. Pihak-pihak tertentu, contohnya, bisa mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang disebut hanyalah ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan konteks. Padahal, masih terdapat sekian ayat dalam Al-Qur’an  yang problematis bagi konteks yang diinginkan.

Dengan kata lain, hampir tidak ada satu pemikiran yang terbebas dari konteks keinginan tertentu. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan kalangan Islam tertentu (dengan cara membunyikan ayat-ayat yang sekilas tampak intoleran) hampir sama dengan yang dilakukan kalangan Muslim moderat. Oleh karena itu, patokan utamanya bukanlah subjektivikasi itu sendiri, melainkan penggunaan atau penempatan subjektivikasi dalam sebuah konteks kebersamaan, kebaikan dan kedamaian.

Akhir-akhir ini, menjadi makin jelas bahwa persoalan toleransi yang menjadi sendi dasar kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk seperti di Indonesia, Khususnya dalam hidup sosial-keagamaan, sedang digugat oleh proses-proses yang sangat mengkhawatirkan.

Akhir-akhir ini, menjadi makin jelas bahwa persoalan toleransi yang menjadi sendi dasar kehidupan bersama dalam masyarakat majemuk seperti di Indonesia, Khususnya dalam hidup sosial-keagamaan, sedang digugat oleh proses-proses yang sangat mengkhawatirkan. Tanpa toleransi dan sikap moderasi, maka mustahil untuk mengelola kemajemukan masyarakat dengan baik. Sementara itu pada saat bersamaan, pemerintah dan dunia justru pernah bersikap tegas.

Disinilah pentingnya melawan intoleransi dengan membumikan ayat-ayat toleransi. Dalam sejarahnya yang panjang dan penuh liku, Islam hampir tidak pernah lepas dari yang namanya toleransi. Pada masa tertentu, Islam tampil sebagai sosok yang mentoleransi. Sedangkan pada masa yang lain Islam tampil sebagai pihak yang ditoleransi.

Toleransi hampir seumur dengan Islam itu sendiri. Banyak riwayat sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab sirah nabi mengisahkan pertemuan Nabi Muhammad Saw dengan kelompok lain. Demikian pula di zaman pasca kenabian, khalifah yang empat.

Dalam konteks  semacam ini, upaya untuk mengubah wajah keberagaman dan intoleransi menjadi toleransi merupakan salah satu ukuran maksimal keadaban dan peradaban sebuah individu . Semakin toleran individu atau bangsa, maka tingkat keadaban public dan peradabannya akan maksimal. Karena itu, toleransi merupakan nilai dan sikap yang harus ditumbuhkembangkan terus menerus dalam keseharian.

Bagi pemerintah, persoalan tumbuh-suburnya toleransi merupakan tanggung jawab Negara sebagai pihak pertama dalam urusan publik. Tentu saja, pemerintah harus merespons secara kritis-responsif bila  ada pelanggaran melalui beragam paying hukum positif yang betul bermakna “positif” dan adil tanpa pandang bulu. Bagi kaum agamawan, barangkali upaya merumuskan teologi atau fikih toleransi perlu diupayakan sebagai tanggung jawab agama dalam meminimilisasi praktik intoleransi yang kian bebas merajalela di berbagai ranah kehidupan.