Ayah Memasak di Dapur dan Ibu Membaca Koran?

0
312

Kartini identik dengan perempuan. Apakah lomba di Hari Kartini justru tidak membebaskan perempuan dari peminggiran ? Atau Hari Kartini sebenarnya jauh memberikan kesadaran bahwa perempuan dan laki-laki perlu dibebaskan dari pembahasaan yang melekat pada alat-alat yang menunjang kehidupan ? Maka tidak ada masalah jika, “Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran kan ?” Tidak juga dianehkan jika terjadi pada pengalaman lain di luar itu, seperti Fatimah bermain bola dan Irsyad memasak rujak.


MASIHKAH ditemui sebuah latihan Calistung, ibu memasak di dapur dan ayah membaca koran? Apa ya kira-kira dasar pembuatan latihan membaca tersebut sehingga diwarisi terus-menerus yang konon, sisanya masih ditemukan di sejumlah mata pelajaran siswa-siswa Sekolah Dasar.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki. Namun, karena budaya domestifikasi perempuan sudah menjadi kebiasaan yang sulit dibantah, secara tidak sengaja, pembuatan teks belajar menulis memunculkan semantik bias gender, bahwa dapur sebagai bagian dari ruang yang semakin dibatasi pada tubuh perempuan saja. Selebihnya, sepertinya akan sulit jika tubuh laki-laki pun juga memiliki akses yang sama dengan perempuan sehingga lahir contoh belajar menulis, ayah memasak di dapur.

Dapur berkelamin perempuan adalah hasil kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun secara obyektif, seluruh peralatan dapur dan akses terhadap ruang dapur berpotensi nir-gender. Artinya dapur sebagai sebuah tempat menciptakan aneka hidangan dapat dijamah oleh tubuh perempuan dan juga tubuh laki-laki.

Ayah sudah sangat nyaman dalam konstruksi sebagai pembaca koran dan ibu sebagai pemasak di dapur. Toh kalaupun dibalik saya sendiri masih merasa tidak nyaman. Padahal dibolak-balikpun tidak ada masalah. Tanpa bermaksud mengacaukan semantik dan tatanan budaya, lebih-lebih perasaan saya yang seolah aneh ketika membalik kalimat tersebut padahal tidak ada yang salah jikalau hari ini ibu tidak memasak karena sedang membaca koran sedangkan ayah tidak membaca koran karena sedang memasak.

Ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir.

Kita banyak tahu juga jikalau juru masak hari ini justru didominasi oleh laki-laki. Tetapi lagi-lagi aneh juga, ketika dapur (kegiatan memasak) dijadikan aset sebuah bisnis, seperti restoran, malah perempuan tersingkir. Meskipun ditemukan juga para koki perempuan, tetapi kok saya memiliki kesan, para koki laki-laki itu seperti menguasai dapur-dapur restoran dengan topi putihnya. Untuk membuktikan, sebaiknya Anda meriset dan menulis hasilnya di kampusdesa.or.id. he he he.

Kesempatan berperan sebagai koki masih mengalami ketimpangan jenis kelamin ketika dapur berkembang menjadi kegiatan bisnis besar.  Ketimpangan yang dimaksud, peran laki-laki dalam dunia koki menjadi lebih besar, sedangkan perempuan belum sepenuhnya bisa merdeka untuk bisa mendapatkan pekerjaan tersebut. Apakah ini disebabkan oleh pandangan yang kuat dan kebiasaan perempuan berada di dapur untuk melayani? Sementara ketika kegiatan seputar dapur menjadi kegiatan bisnis berskala besar seperti di restoran, atau hotel maka peran perempuan terpinggirkan. Bapak menjadi koki di restoran dan ibu memasak di dapur untuk melayani keluarga.

Keluar dari kungkungan bahasa

Zaman milenial dan anak-anak zaman now barangkali akan langka mendapatkan fakta ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Sebagian besar anak sudah sama-sama bisa mendapatkan figur yang bervariasi di jagat maya internet.  Mereka tidak lagi dibatasi oleh bahasa ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur. Meski demikian, figur peran yang ditunjukkan di kehidupan sehari-hari juga mempengaruhi apakah dapur dan dunia literasi (melek pengetahuan) tetap memiliki pengaruh apakah peran dapur masih melekat dalam jenis kelamin perempuan atau kesempatan mengambil peran di dapur terbuka baik pada laki-laki dan perempuan.

Saya akan ceritakan beberapa contoh. Salah satu official kesehatan club sepak bola liga Inggris, yaitu Chelsea, ada yang perempuan. Sepertinya aneh ketika perempuan berlari-lari di lapangan besar sepak bola tersebut. Tidak itu saja, ternyata Chelsea pun memiliki tim perempuan yang bernama Chelsea Ladies FC yang juga sebagai, termasuk club besar Inggris lain juga punya semisal Arsenal, Manchester City.

Fakta itu dapat dikatakan, sepak bola juga tidak lagi melekat dijeniskelamini laki-laki.

Begitu juga dengan anak saya yang menyukai bermain sepak bola. Ternyata dia juga sedikit menyukai kegiatan masak-memasak. Dia belajar dari sumber online seperti youtube. Dia tidak merasa risih menggunakan dapur sebagai tempat latihan memasak. Pengalaman ini menunjukkan bahasa “ibu memasak di dapur dan ayah membaca koran” secara praktik lebih tanpa dibeda-bedakan secara jenis kelamin. Anak laki-laki dan perempuan bisa mengakses informasi tanpa dibumbui penjeniskelaminan seperti ayah membaca koran. Begitu juga berlatih memasak tidak dihalangi oleh alasan bahwa yang memasak itu hanya ibu atau anak perempuan.

Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Dapur dan perabotnya tidak harus dijeniskelamini, apalagi diselaraskan dengan pembakuan peran ketika perabot dapur itu difungsikan. Memangnya siapa juga yang membakukan jika sotil, serok atau alat penggoreng lainnya itu mutlak berjenis kelamin perempuan. Alat-alat itu kan netral,  maka bahasa ibu memasak di dapur itulah yang selanjutnya menjadikan segala perabot dapur itu selalu melekat ke jenis kelamin ibu (perempuan). Begitu juga sepak bola. Siapa pula yang memberikan pembakuan bola berjenis kelamin laki-laki. Tidak ada kan. Sepak bola yang kebanyakan dimainkan oleh laki-laki pada akhirnya digebyah uyah seolah-olah sepak bola menjadi sejalan permainannya dengan pemain laki-laki. Tidak harus demikian kan. Kebiasaanlah yang menjadikan bola berjenis kelamin laki-laki dan perabot rumah tangga berjenis kelamin perempuan yang seharusnya tidak menjadi pengotak-ngotakan peran.

Nah, Hari Kartini, apakah juga mampu mengembalikan bahasa pada status yang positif dan tidak membakukan peran seorang ibu dengan fungsi terhadap alat-alat yang digunakan untuk menunjang kehidupannya. Begitu juga apakah Hari Kartini juga membebaskan alat-alat kehidupan yang biasa digunakan oleh laki-laki dibahasakan secara positif bagi perempuan. Suatu contoh begini, apakah lomba memasak rujak yang diikuti anak saya di sekolah sebatas proses menengok dapur dan menguji mereka dalam ruang keterasingan, yakni dia seperti diuji nyali saja pada tugas yang biasa dilakukan oleh perempuan ataukah lomba memasak bagi anak laki-laki adalah bahasa yang digunakan untuk membongkar pembakuan tentang penjeniskelaminan perempuan terhadap ruang dapur?

Lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, “bapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,” dan “bapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.”

Dengan begitu, lomba memasak bisa dijadikan sebagai membangun bahasa baru melalui pengalaman melintasi batas pembakuan peran tersebut dalam dunia memasak. Jadinya bisa seperti ini, “bapak dan ibu memasak di dapur untuk makan malam kami,” dan “bapak dan ibu mencari menu baru di youtube untuk makan malam kami.” Semua memiliki kesempatan yang sama tanpa dibatasi oleh penjeniskelaminan yang baku. Toh, semua itu bisa saling dipertukarkan perannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here