Asri Wijayanti ; Mengenal Nulikan Hidup Srikandi Hukum Penuh Prestasi

1
87

Kampus Desa-Seluruh jenjang kuliahnya, S-1, S-2 dan S-3 diperoleh melalui beasiswa. Bahkan ditambah Sandwich (beasiswa musiman di Wollongong University Australia). Perempuan yang telah menulis 24 artikel ilmiah, 14 publikasi pada pertemuan ilmiah dan 5 buku di seputar hukum ini dapat dijadikan teladan perempuan berprestasi. Perempuan yang sekarang menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum di Universitas Muhammadiyah Surabaya Jawa Timur dan Pimpinan Redaksi Jurnal Yustitia akan membagikan pengalaman dan sudut pandang kehidupannya untuk terus menjadi sosok terbaik. Meskipun bapaknya seorang sopir truk, semangatnya menembus batas. Berikut nukilan kisah hidupnya yang disarikan dari hasil wawancara oleh dr. Dito Anurogo, M. Sc, Dokter Rakyat dari Kampus Desa.

Apakah menjadi doktor di bidang hukum merupakan cita-cita sejak kecil? Bila tidak, apa cita-cita Anda sebenarnya ?

Tidak. Saat SD saya bercita-cita menjadi Polwan atau tentara. Keinginan menjadi seorang doktor baru tahun 2004, ketika saya bertemu dengan seorang teman S2 yang hampir menyelesaikan studi S3-nya.

Bagaimana reaksi keluarga dan para sahabat, saat Anda memutuskan memilih bidang hukum sebagai pilihan hidup ?

Hukum sebenarnya bukan pilihan utama saya. Menjelang kelulusan SMA, tahun 1987, ada kegiatan untuk mengisi formulir PMDK. Pilihan pertama saya adalah Akuntansi Unair. Pilihan kedua, saya menuruti saran Bapak untuk menulis Fakultas Hukum Unair. Ternyata saya diterima. Reaksi keluarga saya sangat senang. Terutama Bapak.

Mengapa tertarik memilih bidang hukum perburuhan?

Sampai lulus S1 saya belum tertarik dengan hukum perburuhan. Skripi saya tentang hukum agraria. Pilihan hukum perburuhan baru saya ambil ketika saya menjadi dosen di FH Untag Surabaya melalui jalur beasiswa Tunjangan ikatan Dinas (TID). Pengalaman kerja 2 tahun sebagai personalia, menjadikan saya memilih bidang hukum perburuhan. Ada sesuatu yang salah telah terjadi di Indonesia. Timbul pertanyaan dalam benak saya, mengapa buruh yang sudah bekerja dengan maksimal, tetapi hasilnya masih hidup di bawah standar. Kejadian mogok kerja oleh dua ribuan buruh di tempat kerja saya waktu itu, sangat melekat di pikiran saya hingga saat ini. Saya berusaha mencari akar masalah terjadinya perselisihan perburuhan yang tak kunjung henti. Ada keinginan mempunyai andil untuk melakukan perubahan.

Bagaimana Anda menjalani kehidupan masa anak-anak, remaja, dan dewasa. Bolehkah cerita suka duka saat menjalani pendidikan di semua tingkatan yang sudah Anda lalui ?

Masa kanak-kanak yang melekat di hati adalah pengalaman saat saya masih duduk di kelas 3 SD Negeri Ngagel Rejo IV Nomor 399 Surabaya. Saat itu saya dimarahi bu guru karena tidak dapat mengerjakan soal cerita dalam mata pelajaran Matematika.

Tiga hari berturut-turut saya mendapat nilai nol. Saat dimarahi pada jam pelajaran tersebut, saya menangis dan berlari pulang. Kalimat yang terucap saya waktu itu, adalah “saya tidak mau sekolah.”  Kalimat itu saya ucapkan terus sampai saya tertidur. Seharian saya hanya menangis di atas tempat tidur, tidak makan, minum, dan mandi apalagi sholat 5 waktu.

Malam hari saya terbangun, (tetapi tetap di atas tempat tidur). Saat itu saya melihat ibu saya sedang sholat tahajud kemudian membaca al-qur’an lalu berdoa, “Ya Allah mudahkanlah anakku, Yanti untuk sekolah, amin”. Anehnya setelah itu saya tertidur lagi.

Keesokan harinya, ibu membujuk dan meyakinkan saya bahwa hari ini insya Allah saya bisa mengerjakan soal matematika, ibu berdoa untukmu. Nah anehnya hari itu juga ternyata saya dapat mengerjakan soal cerita matematika dengan sangat mudah dan dapat nilai 100. Hari itu sepertinya awal saya senang belajar.

Ketika di bangku kelas III SMP, ibu saya meninggal dunia karena tumor kandungan dan kanker otak.

Saat di bangku SMA, bapak saya sudah tidak bekerja lagi sebagai sopir truk. Dengan mengambil kredit mobil, bapak mengais rejeki sebagai sopir angkutan antar kota Surabaya-Porong. Uang saku saya waktu itu hanya nyaris untuk transport saja. Saya sering kelaparan. Sering saya minum air PDAM untuk mengisi perut kosong. Nah saat itu ada bu guru yang baik hati, sering membelikan saya nasi soto. Dia bu Hermin. Saya ingat terus jasanya. Saat ujian terbuka S3, Beliau saya undang, sebagai tanda ucapan terima kasih saya, atas budi baik beliau. Beliau sangat bangga dengan saya.

Saat mengambil S2, saya sudah memiliki seorang anak. Mungkin karena cemburu, anak saya pernah membuang buku kuliah saya di selokan. Di akhir studi S2 saya hamil anak kedua. Target saya waktu itu, saya harus menyelesaikan S2 sebelum anak kedua saya lahir. Selama masa kehamilan saya mengalami pendarahan sekitar 7 kali. Akibatnya saya mengerjakan konsep tesis di atas tempat tidur. Pengetikan saya serahkan ke rental. Alhamdulillah saya orang pertama di angkatan 1998 yang maju ujian tesis. Alhamdulillah, saya lulus S2 terlebih dahulu sebelum melahirkan anak kedua.

Duka ketika kuliah adalah saat mencari data untuk pembuatan skripsi, tesis dan disertasi. Saat mencari data skripsi di Pemda tingkat II Surabaya, saya terpaksa berbohong dengan mengaku keponakan dari pejabat yang akan saya hubungi ke sekretarisnya. Hal itu karena izin mencari data saya sudah tiga bulan belum juga diproses. Alhamdulillah dengan cara itu saya dapat menyelesaikan S1 selama 7 semester dengan nilai tertinggi kedua pada lulusan FH Unair saat itu.

Duka ini terulang lagi saat mencari data untuk tesis S2. Birokrasi yang belum terbuka menjadikan saya sulit untuk mendapatkan MOU Indonesia-Malaysia sebagai dasar hukum analisis tesis. Alhamdulillah setelah dilempar ke sana kemari oleh oknum pejabat depnaker di Jakarta, tanpa sengaja saya bertemu bapak Din Samsudin. Alhasil, oknum yang tadinya memperlakukan saya dengan tidak baik, atas perintah pak Din, keadaan menjadi berubah dan saya akhirnya mendapat bahan yang saya perlukan.

Duka mencari bahan terulang lagi di tahun 2007, saat saya mencari naskah akademis UU 25/1997, UU 21/2000, UU 13/2003 dan UU 2/2004 ke DPR-RI. Oknum staf DPR akan memeras saya dengan biaya tertentu untuk mendapatkan hanya copy CD berita acara rapat pembuatan UU tersebut. Untungnya saya tidak memiliki sejumlah uang yang diminta tersebut. Akhirnya dengan bantuan seorang cleaning service, saya berhasil mendapatkan foto copy dengan biaya yang wajar.

Keadaan itu sangat jauh dari kondisi di luar negeri. Ketika saya sandwich di University of Wollongong Australia. Informasi begitu terbuka. Para profesor sangat baik dan terbuka. Ketika berdiskusi mereka sangat menghargai perbedaan. Tidak pernah terucap “kamu salah”. Yang ada hanya pertanyaan mengapa kamu berpendapat seperti itu, coba jelaskan. Begitu pula seorang profesor dari University of Sidney (hanya dengan perkenalan melalui email) telah memberikan kemudahan akses jurnal bagi saya di sana. Saya dengan mudah mengakses peraturan, jurnal apapun dari negara manapun termasuk Indonesia sendiri.

Rupanya Indonesia sebagai bangsa yang ramah saya rasakan sangat bertolak belakang atas fakta pencarian bahan penelitian itu. Semoga ke depan Indonesia menjadi lebih terbuka kepada akademisi.

Dapatkah Anda berbagi cerita tentang kehidupan “masa lalu” yang begitu menempa dan mendewasakan diri, sekaligus mengandung hikmah?

Pada awal saya menjadi dosen, saya sering tidak dipercaya oleh mahasiswa. Mungkin waktu itu saya masih terlihat seperti anak-anak. Bahkan pernah saya dikira anaknya bu Asri Wijayanti. Pernah sewaktu saya mengajar, mahasiswa laki-laki yang duduk di kursi belakang senyum-senyum sendiri. Setelah saya datangi ternyata dia sedang menggambar saya (saat itu saya sedang mengenakan span pendek, maklum saat itu saya belum berjilbab). Kejadian ini mulai memunculkan keinginan untuk berbusana muslim.

Ketika sedang studi S3, saya pernah sakit. Kelebihan valium yang disuntikkan oleh seorang dokter (di salah satu rumah sakit internasional di Surabaya) pada saat akan mengambil IUD, menyebabkan saya mengalami koma kurang lebih 4 jam. Karena keadaan saya, pengambilan IUD gagal. Akhirnya saya pindah dokter dan rumah sakit. Melihat riwayat tersebut, maka pengambilan IUD dilakukan di ruang operasi dengan kondisi (yang menakutkan seperti saat saya akan operasi caesar melahirkan).

Pasca kejadian itu hampir seluruh waktu saya pakai untuk tidur. Sempat saya tidak dapat membaca rangkaian huruf. Saya dapat merasakan lambatnya perintah dari otak ke anggota tubuh untuk bergerak. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah “hari ini adalah hari terakhir saya melihat suami dan anak-anak saya).

Perlu perjuangan yang sangat dalam untuk dapat membaca, menggerakkan tangan dan anggota tubuh serta bekerjanya otak. Saya yakin ada dosa besar yang telah saya lakukan sehingga Allah menjadikan sakit saya sebagai pelebur dosa.

Mungkin saya telah sombong, merasa semua kelebihan saya hanya semata-mata karena kelebihan dan saya sendiri yang melakukan. Saya lupa bahwa saya bukan apa-apa. Semua yang ada pada diri saya hanyalah milik dan atas kehendak Allah.

Disitulah saya mulai belajar bahwa saya harus menekankan dalam hati atas semua tindakan yang akan saya lakukan dengan lafadz “Lahaula wala quwatta illa billahil aliyil adzim”. Saya bersyukur telah diberi suami yang baik. Selama saya sakit dari A-Z suami sayalah yang melakukan itu. Sementara saya hanya dapat tidur saja. Berbagai cara saya lakukan agar saya pulih kembali mulai berobat alternatif dengan pijat tusuk jari sampai bercanda dengan daun.

Anehnya di tengah kondisi tersebut ada waktu yang membuat saya mampu menulis sebuah buku. Buku itu judulnya “Pergeseran konsep hubungan kerja, hak pekerja yang terhempas” dan berhasil mendapat insentif buku ajar Dikti tahun 2008.

Keluarga Asri Wijayanti

Ibu termasuk aktif sebagai wanita karir, terbukti dari banyaknya berbagai pengalaman di dunia kerja. Boleh berbagi tentang pengalaman dan hikmah apa saja yang telah Ibu dapatkan?

Sebagai personalia, ketika saya belum menikah. Pekerjaan itu tidak cocok dengan hati nurani saya. Tetapi telah meletakkan dasar pengalaman untuk mengakaji lebih jauh tentang hukum perburuhan. Sebagai dosen saya sangat menikmati. Setiap selesai mengajar (atau menulis) saya merasa badan saya lebih sehat, meski hampir sebelum melakukan saya sering merasakan sakit.

Sebagai dosen saya harus profesional. Saya berusaha menyiapkan materi perkuliahan sebelum mengajar. Ketika saya di luar rumah, saya harus benar-benar untuk bekerja. Jika tidak ada yang saya kerjakan di kampus saya lebih senang untuk memilih di rumah. Saya merasa lebih produktif apabila saya menulis di rumah. Izin suami mutlak harus saya miliki jika saya akan ke luar rumah untuk bekerja.

Boleh tahu formula sukses Ibu? Bagaimana pula Ibu memaknai kesuksesan ini?

Sukses apabila apa yang kita kerjakan tidak merugikan orang lain dan selalu memberikan kemanfaatan pada orang lain. Sukses apabila kita sudah dapat memberi sesuatu yang bermanfaat pada orang lain.

Menurut Ibu, apa saja “top ten issues” yang sering dijumpai di dalam praktek/kehidupan sehari-hari terkait bidang hukum perburuhan?

  1. Outsourcing,
  2. Upah murah,
  3. TKI,
  4. PHK,
  5. hak berserikat,
  6. pekerja anak,
  7. kerja paksa,
  8. jaminan sosial,
  9. hukum sebagai produk politik, dan
  10. peradilan yang adil.

Secara umum, bagaimana strategi menangani “top ten issues” tersebut?

Harus ada kejujuran dalam proses pembentukan aturan hukum dan kebijakan serta kejujuran dalam penegakan hukum.

Bagaimana Ibu menanggapi maraknya outsourcing atau sistem kontrak yang bahkan juga dialami oleh tenaga medis (dokter, perawat, bidan)? Apa solusi nyata dari “tragedi kemanusiaan” ini?

Outsourcing, di Indonesia telah dikonsepkan yang salah. Berbeda dengan teori awal yaitu ekonomi yang meletakkan hanya outsourcing pekerjaan bukan outsourcing pekerja. UU 13/2003 bahkan putusan MK belum menghilangkan konsep outsourcing pekerja. Outsourcing juga berbeda dengan teori hukum, dimana pekerja (hanya sebagai subyek hukum) diperlakukan sebagai obyek hukum yang dapat diperdagangkan.

Outsourcing seolah dipisahkan dari hak-hak pekerja berdasar standart minimal kerja. Seolah pengusaha dengan bebas mengabaikan hak-hak itu.

Teori outsourcing  yang berasal dari management telah dialihkan menjadi alat politik perburuhan untuk mendapatkan upah murah. Seharusnya outsourcing tidak ada kaitannya dengan pemberian hak-hak pekerja berdasar standart minimal kerja. Hak-hak itu tetap harus diberikan kepada semua pekerja baik dengan sistim outsourcing atau insourcing / inhouse production.

Solusi mengatasi revisi aturan hukum yang berkaitan dengan outsourcing.  Mulai revisi pengertian hubungan kerja, pengusaha. Hapuskan outsourcing pekerja!!!

Banyak sekali tokoh bangsa yang memiliki ide brilian untuk membangun bangsa. Nah, sebagai seorang yang pakar di bidang hukum, bagaimana platform Ibu untuk memajukan bangsa yang heterogen dan majemuk ini? Bila berkenan, mohon sampaikan ide/pemikiran yang bersifat “thought provoking and worth spreading” dengan hypnotic-language.

Di bidang hukum, harus ditanamkan pendidikan hukum pada mahasiswa yang berlandaskan keadilan hukum (substantive) bukan sekedar keadilan undang-undang. Hakim harus berani membuat hukum yang baru apabila ada aturan hukum yang beretentangan dengan rasa keadilan. Pemerintah harus terbuka dalam proses pembuatan peraturan perundang-undangan. Jangan dikonsepkan sebagai sebuah proyek yang dikerjakan oleh mereka yang bukan ahlinya. Keterbukaan informasi mulai dari proses pembentukan, pelaksanaan dan penegakan hukum.

Apa (saja) pesan dan kesan Ibu untuk generasi muda dan mahasiswa di bidang hukum?

Untuk generasi muda, lakukan perbaikan apapun juga yang dimulai dari diri sendiri. Untuk mahasiswa di bidang hukum, jangan serta merta menerapkan semua aturan hukum secara absolut. Kaji terlebih dahulu kesesuaian rumusan aturan hukum dengan teori hukum dan filsafat hukum. Hukum dibuat untuk melindungi. Hukum yang salah harus segera direvisi.

Apa pesan dan kesan Ibu untuk pemerintah?

Produk hukum harus dibuat melalui proses yang terbuka. Pemerintah harus memfasilitasi keterbukaan proses pembuatan, dan penegakan hukumnya. Diperlukan akses internet yang mudah atas semua aturan hukum, putusan hakim dan kebijakan hukum.

Demikian wawancara eksklusif ini, semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here