Angpao Lebaran Mendidik Anak atau Tidak?

0
99
angpao
Sumber gambar: productnation.co

0Shares
0

Orang tua harus mampu menjelaskan fungsi uang agar anak dapat memahami nilai pentingnya uang. Sehingga tidak boleh dihambur-hamburkan kecuali membeli barang yang penting. Sebaiknya ditanya apa yang anak inginkan dan sekalian diarahkan oleh orang tua mana yang boleh dibeli dan tidak. Dan yang tidak kalah penting adalah diajak menyisihkan uang untuk shadaqah atau infak. Menanamkan nilai berbagi dan menjadi seorang dermawan pada anak sejak dini juga perlu untuk memahamkan nilai moral yang akan diingatnya ketika dewasa nanti.

Kampusdesa.or.id–Entah dimulai kapan dan oleh siapa, tradisi memberi uang saku (angpao) saat lebaran ini, yang jelas akhirnya momen angpao ini menjadi momen yang ditunggu oleh anak-anak. Tradisi ini rata terjadi pada semua lapisan ekonomi masyarakat, baik yang kaya, berkecukupan maupun pas-pasan, semua ingin memberi angpao, sebagai salah satu bentuk berbagi kebahagiaan.

Indonesia adalah negara yang memegang tradisi memberi angpao saat Lebaran. Setiap tahun budaya ini masih dilakoni sampai lebaran sekarang. Biasanya, anak kecil lah yang paling bersemangat berburu angpao Lebaran dari orangtua, paman, tante, maupun eyang mereka saat Lebaran. Kalau di kampung saya, yang kerap diberi angpao adalah usia SD-SMP, bahkan anak usia balita maupun batita (di bawah tiga tahun) dan bayi pun mendapat angpao. Meskipun mereka belum mengerti tentang uang. Lantas sebenarnya jika anak-anak mendapat angpao Lebaran, itu mendidik atau tidak?

Bagi-bagi angpao lebaran menjadi salah satu tradisi yang selalu menghiasi momen Lebaran. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh orang dewasa yang ingin membagikan sedikit kebahagiaan kepada keponakan, maupun sanak saudara. Maka sebab itulah tidak sedikit juga keponakan saya minta uang saat lebaran.

Baca juga: Ora Poso, Ora Oleh Riyoyo

Seperti yang dilansir oleh Lifestyle.okezone.com (04/06/2019) Psikolog Meity Arianty menjelaskan, kegiatan bagi-bagi angpao lebaran bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk mendidik anak dalam menghargai sebuah proses. “Pertama harus dimulai dari niat si pemberi angpao. Sebaiknya berikan angpao dengan maksud memberikan reward atau apresiasi kepada anak karena mereka telah berusaha puasa selama 1 bulan ini,” terang Meity Arianty.

Dengan demikian, maka akan tertanam di pikiran anak-anak bahwa, bila mereka berperilaku baik, maka mereka akan mendapatkan sesuatu. Meity menambahkan, sampaikan pula bahwa angpao tersebut adalah rezeki yang diberikan oleh Allah SWT untuk anak shaleh.

Selain itu, sebaiknya berikan angpao dalam jumlah yang wajar. Lalu masukkanlah uang ke dalam amplop bergambar lucu. Lebih bagus jika pada bagian depan amplop tertulis ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin. Secara tidak langsung, cara ini akan mengajarkan anak tentang sopan santun.

Karena selama ini yang saya amati adalah bagi-bagi angpao ini menjadikan anak mata duitan. Ketika silaturahmi (kunjung lebaran) tidak menyampaikan maaf malah minta uang. Parahnya beberapa anak (mungkin dulu zaman kecil saya termasuk ke dalam golongan ini), hanya mengunjungi rumah yang “ditandai” oleh anak-anak bakal memberi angpao lebaran.

Pentingnya Peran Orang Tua

Karena sudah menjadi hal yang lumrah dan berniat menyenangkan anak-anak di kala lebaran. Bahkan dulu saat lebaran saya merasakan kebahagian pada momen lebaran ini. Karena pasti mengantongi uang dari pak dhe, budhe, dan kakek nenek dari pihak bapak maupun ibuk. Uang yang diberikan pun bermacam-macam, mulai dari 2000 sampai 50.000. kalau ditotal saya mendapatkan sebanyak plus-minus 500 ribu, yang mana zaman itu sudah besar. Di usia masih anak-anak uang segitu kalau dibuat beli jajan pasti gak ada habisnya dan tentu malah jadi boros, which is itu tidak baik. Lalu bagaimana seharusnya??

Orang tua di sini memiliki peran yang sangat penting terutama Ibu. Mengutip HaiBunda.com psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi menyarankan orang tua memasukkan angpao anak di celengan yang memang sudah disediakan. Jika terpaksa uang anak dipinjam, jangan lupa dikembalikan. Ini sebagai contoh ke anak bahwa kita harus menghargai orang sekaligus menghargai miliki orang lain. Terlebih kalau jumlahnya cukup banyak, orang tua bisa memasukkannya ke reksadana atau dibelikan saham.

Ini dulu juga yang dilakukan oleh orang tua kepada saya dan sekarang adik saya mengalami hal serupa. Namanya naluri anak-anak (apalagi yang sudah mengerti uang) pasti ingin dibelikan jajan dan jika disimpan sendiri maka cepat dihabiskan tanpa adanya kontrol dan dibantu kelola uangnya.

Menerima uang tentu saja memberikan perasaan yang menyenangkan, namun alangkah baiknya untuk memberi tahu anak agar tidak langsung menghabiskan uang yang ia terima. Orang tua dituntut hadir di sini, mengajarkan sifat hemat dan diajari menabung untuk membeli kebutuhan yang lebih utama di kemudian hari.

 

Menerima uang tentu saja memberikan perasaan yang menyenangkan, namun alangkah baiknya untuk memberi tahu anak agar tidak langsung menghabiskan uang yang ia terima. Orang tua dituntut hadir di sini, mengajarkan sifat hemat dan diajari menabung untuk membeli kebutuhan yang lebih utama di kemudian hari. Seperti halnya beli keperluan pendidikan yaitu buku, sepatu, atau seragam sekolah saat memasuki ajaran tahun baru. Ini yang dinamakan dengan belanja bijak daripada membeli urusan perut. Tentu usia belia belum mampu me-manage hal demikian.

Baca juga: Lebaran Tidak Harus Beli Pakaian Baru

Ajari anak untuk menyimpan uang yang dia terima, melalui kegiatan menabung. Ini dapat membuat anak menahan hasratnya untuk berbelanja karena dorongan sesaat. Dengan begitu, dia akan belajar mengelola uang angpao Lebaran dengan baik. Kebiasaan menabung perlu ditanam sejak dini, oleh karena itu berikan anak tabungan dengan karakter favorit untuk memotivasinya. Kalau saya dulu pakai tabungan ayam, kalau adek saya karena perempuan dan suka sama kartun frozen maka dibelikan tabungan/celengan tabung bergambar karakter fozen.

Selain itu orang tua harus mampu menjelaskan fungsi uang agar anak dapat memahami nilai pentingnya uang. Sehingga tidak boleh dihambur-hamburkan kecuali membeli barang yang penting. Sebaiknya ditanya apa yang anak inginkan dan sekalian diarahkan oleh orang tua mana yang boleh dibeli dan tidak.

Dan yang tidak kalah penting adalah diajak menyisihkan uang untuk shadaqah atau infak. Menanamkan nilai berbagi dan menjadi seorang dermawan pada anak sejak dini juga perlu untuk memahamkan nilai moral yang akan diingatnya ketika dewasa nanti. Lebih-lebih hal semacam ini dijadikan kebiasan agar mengakar dan melekan menjadi habit si anak. []