Anggrek di Pojok dan Paskah yang Sunyi

0
69

0Shares
0

Seorang kyai kampung merawat salib. Meski tunawicara, tapi fasih melafalkan Alquran. Salib di rumahnya diminta memerbaiki seseorang. Ada syaratnya, dari kayu jati dan yang membuat adalah orang yang sudah khatam (tamat) membaca Alquran.

Kampusdesa.or.id–Setelah mencari tempat, maka ketemulah di sebuah pojok. Di tempat itulah, beberapa bulan lalu, saya menempatkan anggrek dendrobium. Tempat di sudut di atas pagar itu, sepertinya cocok. Terlindung dari sinar matahari langsung, namun masih terbuka ruang mendapatkan sinar mentari.

Anggrek itu, pemberian seorang teman. Saat rumahnya direnovasi, semen cor-coran jatuh dalam pot menimpa pakis media tanamnya. Maka, merana-layulah dia. Setelah dirawat, berbulan-tahun, berbungalah dia. Ungu bergaris putih. Indah.

Pagi yang cerah, ketika pandemi wabah, serta kena jadwal ngantor di rumah, keindahan di pojok rumah dekat pagar itu ditemukan. Iya, sebatang menjulang mekar kembangnya. Begitu cerah.

Belum tuntas menikmati anggrek di pojok rumah, terbetik kabar. Seorang teman yang tinggal di Jember. Rumahnya berada persis di dalam lingkungan pasar krempyeng. Pagi buta ramai, beranjak tengah hari bubar.

Pandemi Covid-19, menghajar kehidupan pasar. Pasar lesu. Sebagian besar orang, memilih aman dengan berlindung di dalam rumah. Teman itu, tahu betul, beberapa tetangganya, bergantung hidup pada keramaian pasar. Selain berjualan, beberapa bergantung sebagai buruh pasar. Menyediakan bawah putih-bawah merah kupas, kelapa kupas, atau menjadi buruh gendong. Bertarung demi hidup, sebagai buruh harian.

Di saat pasar lengang, teman itu tahu, ada beberapa tetangganya, mengalami kesulitan. Termasuk mendapatkan sesuap nasi. Bersama dengan ibunya, ia memasak nasi dengan lauk seadanya. Membungkus dan membagikannya.

“Tidak banyak, hanya untuk 55 KK. Karena hanya itu yang kami mampu,” pesannya singkat. Iya, tidak banyak dari segi jumlah. Namun cukup berarti tentu saja.

Teman itu, saban harinya, membantu orangtuanya membuat dan menjual kue pastel. Usaha kelas rumahan. Kue pastelnya enak. Setiap hari juga dijual di pasar krempyeng, depan rumahnya. Dalam senyap, ia gegas berbagi hidup.

Selalu saja, ada pribadi yang memilih bekerja dalam senyap. Gelap malam, tidak pernah kehilangan kerlip bintang.

Pada siang yang telah menyembunyikan matahari di balik awan mendung, seorang sahabat berkisah. Setengah berbisik.

“Juragan, kemarin ke rumah. Tetiba dia minta dibuatkan abah sebuah salib. Dari kayu jati tua,” kisahnya.

Juraganya seorang Katolik taat. Beberapa waktu, jauh sebelum pandemi Korona, dia sempat ikut wisata rohani. “Entah bagaimana ceritanya, rombongannya terpilih untuk masuk di sebuah ruang sakral,” lanjut teman sambil menyeruput segelas kopi hangatnya, di bawah rindang pohon ceres yang sedang meranggas daunnya.

Anehnya, terusnya melanjutkan, suatu hari ia didatangi serombongan dari pondok pesantren. Seseorang pemimpin rombongan, adalah orang yang dihormati. Lewat penerjemahnya, karena ( nuwun sewu ) sang Kyai adalah seorang tunawicara. Namun ketika mengaji ayat suci Alquran, begitu fasih-merdunya beliau.

Juragan teman saya kaget, sang Kyai tahu bahwa dia baru pulang dari ziarah. Bahkan, beliau pun tahu, bahwa dia sempat memasuki sebuah tempat yang tidak sembarang orang, punya kesempatan itu. Bahkan, waktu dan tempatnya, disebutkan secara presisi.

Belum surut herannya, sejurus kemudian, telunjuk Kyai itu menuding arah pada salib yang menempel di dinding.

Sebuah benda yang menjadi simbol keteladanan akan kehidupan di balik pengorbanan yang tuntas-agung. Puncak spiritualitas keimanan umat kristiani.

“Salib di dinding itu, kalau bisa diganti. Namun ada syaratnya. Pertama, salib harus dari kayu jati yang tua. Kedua, salib itu harus dibuat oleh tangan orang yang telah katam Alquran.”

“Salib di dinding itu, kalau bisa diganti. Namun ada syaratnya. Pertama, salib harus dari kayu jati yang tua. Kedua, salib itu harus dibuat oleh tangan orang yang telah katam Alquran. Nah, kalau sudah jadi, saya yang akan memasangya,” lewat santri penerjemahnya, dawuh Kyai yang juga sempat menjadi penasehat seorang Kyai besar, pemimpin negeri ini.

Dengan takzim, juragan teman saya, mendengarnya. Sempat termangu sejenak. Perhatiannya, tertuju pada kata katam. Baginya, tentulah, pribadi yang dimaksud, bukan sekadar mampu membaca semua teks ayat suci Alquran. Namun pribadi yang merindu berupaya menjadi rahmat bagi semesta raya.

Tidak butuh waktu lama, dia teringat sahabatnya sejak muda. Sahabatnya itu, pensiunan dari kantor KUA. Keilmuan agamanya, tak diragukan. Mumpuni. Tak heran, ia sering diundang memberikan tausiyah. Tidak neka neka saat aktif berdinas dulu. Ketika pensiun, memilih hidup bersahaja menjadi Kyai kampung. Menerima ikhlas hidup dengan gaji pensiunan. Kadang membuat meubeler, sekadar mengisi waktu menyukakan hati.

Kepadanyalah juragan teman saya datang. Setelah mendengar tuturan sahabatnya, tidak berpikir panjang Kyai kampung itu. Sambil tersenyum ramah, ia terima permintaan sahabatnya itu. Mereka adalah karib semenjak mudakala.

Pak Kyai kampung itu, cukup tahu pasang-surut sahabatnya. Dia anak keluarga kaya. Setelah menikah, hidup mandiri. Pernah jatuh miskin. “Istrinya membuat jajanan. Dia yang keliling menjualnya. Dia seperti merintis hidup dari nol. Ketika usaha sound system-nya berkembang, dia turut menyumbang bahan material untuk pembangunan masjid di kampung.” Begitu kisah pak Kyai kampung pada teman saya, menantunya itu.

Pak Kyai kampung telah merampungkan pesanan karibnya. Diletakkannya salib dari kayu jati tua itu, di meja.

Ketika tengah hari, bergeser menuju sore, berkumandang adzan azhar. Pak Kyai kampung telah merampungkan pesanan karibnya. Diletakkannya salib dari kayu jati tua itu, di meja. Di saat yang sama, isteri teman saya, usai ambil wudlu. Betapa terkejutnya dia.

Nampak seseorang, sedang memandang salib kayu jati itu. Tak lama. Sekedipan mata, lenyaplah dia. Setarikan nafas, dia menenangkan diri, kemudian melanjutkan diri sholat.

Pandemi wabah Covid-19, telah membuat murung. Was was serba kuatir. Dalam senyap, tak kekurangan pribadi luhur yang berkeringat demi kemanusiaan. Anggrek (dendrobium) ungu bergaris putih, di pojok tetap mekar-indah. Segar membasah tertimpa gerimis sore.

Selamat menyongsong Paskah,
dalam sunyi yang riang.

Trianom Suryandharu. Sesepuh Gusdurian Malang. Aktifis penggerak sosial, tinggal di Bandulan Malang.

*Artikel ini telah dimuat di Terakota.id dengan judul Anggrek di Pojok dan Paskah yang Sunyi.