Anak Berbakat, Terlihat Berbeda Tetapi Istimewa

0
155

AKU ADALAH seorang ibu pada umumnya. Memiliki aktivitas rumah tangga yang luar biasa padatnya. Bukan untukku seorang diri, tapi untuk pengabdianku pada suami. Tidak hanya dalam rumah yang mungil ini aku menghabiskan hari-hari ku, tapi aku juga mempunyai segelintir aktivitas di luar rumah yang lumayan menguras waktu istirahatku.

Apalagi ditambah aku merawat malaikat kecil yang sangat butuh tenaga yang lebih. Kata orang-orang, “Bu, jangan banyak ngurusin anak-anak orang, kasian anaknya,” sering sekali aku mendengar ucapan baik itu terdengar langsung ataupun yang berbisik-bisik di belakang.

Memang aku adalah seorang guru, dan suamiku juga seorang guru, tetapi ini adalah ujian terbesar bagi kami, dianugrahi putra yang memang tidak bisa dikatakan aneh atau mungkin unik  bagi orang yang tidak memahami sudut keistimewaan. Yah, karena kebiasaan yang dia lakukan.

Awalnya memang sangat berat bagi kami berdua menerima hal ini. Sekali lagi aku ungkapkan tidak mudah. Setiap hari keadaan rumah porak poranda, barang berceceran dimana-mana. Suara bising yang membuat hidup ini semakin terusik.

Sudah berapa banyak alat elektronik dibuat mainan oleh anakku. Dia sangat gemar sekali mempermainkan alat-alat yang pada umumnya itu bukan permainan mereka. Bersyukurnya aku diberikan rezeki yang lebih untuk mengganti itu semua. Tapi aku menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan, barangsiapa yang mampu memaknai perjalanannya maka keindahan akan didadapatkannya.

Blender, alat pengering rambut dan lain sebagainya bahkan alat-alat dapurku telah habis dibuat menjadi permainannya. Padahal sudah berapa puluh mainan kami belikan untuknya tapi tidak ada satupun yang masih tersimpan utuh di ruangannya. Dia adalah Denny, seorang anak yang sangat gemar mengotak-atik setiap barang. Apapun itu. Mulai dari entong sayur, tempat makan, sendok makan, dan lain sebagainya.

“Denny…, dimana sendok nasi nak, yang kemarin baru Bunda beli?” Teriakku bertanya pada anakku.

“Di meja Bun, meja tamu,” jawab anakku.

Bukan hal yang biasa ini yang kesekian kalinya. Begitu aktifnya anakku bermain dengan barang-barang rumah, sampai-sampai dia lupa dengan teman-teman bermainnya.

Hal sangat mengejutkanku, sebuah gitar kecil mainan buatan anakku ternyata bisa dibuat sendiri oleh anakku yang dianggap berbeda tadi. Sebuah gitar yang terbuat dari entong sayur. Aku tidak bersedih dianugrahi anak seperti Denny. Aku sangat bahagia. Dia tidak seperti yang orang-orang banyak katakan. Bagiku dia sangat cerdas. Dia membanggakan, meskipun banyak orang yang tidak mengetahui sebenarnya keajaiban apa yang telah dia buat. Maklumlah, anakku lebih banyak diamnya dan menghindari hubungan dengan dunia luar. Jadi yang banyak diketahui orang adalah anakku seorang pengrusak.

“Nak, ini kamu yang membuatnya?” Tanyaku padanya.

“Iya Bunda. Denny pengen dibelikan gitar seperti punya om Ferdi. Minggu lalu kata ayah mau membelikannya tetapi sampai sekarang tidak dikasih-kasih,” jawab Denny polos.

Entah dia belajar dari mana dengan barang-barang ajaib yang telah dibuatnya. Banyak sekali barang-barang dimodifikasi oleh anakku. Meskipun harus merelakan banyak barang yang berharga untuk melihat barang yang istimewa

Mulai dari sinilah aku berhenti membelikan mainan untuknya. Benar apa yang dilakukan oleh suamiku. Tidak selalu membelikan apa yang anak inginkan. Tapi inilah harapan yang sesungguhnya. Dia mampu membuat hal yang baru. Entah dia belajar dari mana dengan barang-barang ajaib yang telah dibuatnya. Banyak sekali barang-barang dimodifikasi oleh anakku. Meskipun harus merelakan banyak barang yang berharga untuk melihat barang yang istimewa.

Anakku memang bukan anak yang pandai bergaul seperti anak lainya. Dia sangat sedikit temannya. Dia lebih suka bermain di dalam rumahnya dengan perabotan rumah tangga dan alat elektronik lainya dibandingan bermain bola dengan teman-temannya. Mungkin inilah yang menyebabkan orang lain memandang berbeda terhadap anakku. Belum lagi anakku yang gemar dengan perlatan-peralatan tersebut yang membuat orang lain merasa kasian terhadapku karena aku aku terus-terusan membeli peralatan tersebut.

Aku juga sempat mengkhawatirkan dengan keadaan tersebut. Dia yang sedikit teman dan selalu menghindar dari keramaian. Tapi dengan apa yang telah diperbuatnya membuat aku berpikir agar keadaan buruk tidak terjadi padanya.

Bukan karena aku seorang guru yang paham segalanya tentang anak, tapi aku belajar dari anakku sendiri dengan apa yang telah diperbuatnya. Aku mengharuskan belajar lebih.

Sempat aku membingungkan hal ini.

Suatu hari yang tanpa sengaja aku bertemu dengan teman kuliahku dulu. Aku mencoba membuka  masalah ini padanya. Aku menyadari ada hal yang istimewa di diri anakku, tetapi aku tidak tau bagaimana aku mengatasi hal tersebut. Aku mengabiskan banyak waktu dengannya untuk berbincang-bincang.

anakku ini adalah anak berbakat. Bukan anak yang berbeda seperti yang banyak orang katakan. Dia juga berkata, aku adalah orang tua yang beruntung mendapatkannnya. Sedikit tidak percaya dengan hal ini, tapi aku mulai melakukan apa yang disarankan temanku.

Kata temanku, anakku ini adalah anak berbakat. Bukan anak yang berbeda seperti yang banyak orang katakan. Dia juga berkata, aku adalah orang tua yang beruntung mendapatkannnya. Sedikit tidak percaya dengan hal ini, tapi aku mulai melakukan apa yang disarankan temanku.

Aku mulai memperhatikan lebih perkembangannya. Saat suatu hari jam dinding di rumah kami berhenti berputar dan kami lupa untuk membenahinya. Tiga hari aku telat masuk mengajar karena lupa mengganti baterai jam dinding dan terkendala kesibukanku yang luar biasa.

Sore harinya aku melihat anakku sibuk dengan HP rusak yang aku singkirkan di gudang. Dengan kesibukanku di dapur, aku juga memperhatikannya mondar-mandir di depanku. Penasaran dengan hal itu, aku diam-diam mengintip apa yang sedang dia lakukan. Dan hal yang mengejutkan terjadi lagi. Terdengar lonceng jam menunjukkan pukul 4 sore.

“Nak, kamu membeli baterai jamnya dapat uang dari mana?” Mencoba bertanya karena aku tahu baterai jam itu mahal. Tidak mungkin dia membelinya dengan uang jajannya.

“Pakai baterai HP yang di gudang Bun. Baterainya masih bisa dipakai kok. Aku pasang kabel di jamnya. Jadi Bunda nggak telat lagi masuk sekolahnya.”

Sedikit membuatku heran. Bagaimana bisa, dia belajar dari mana? Itu yang membuatku bertanya-tanya. Apalagi dia baru kelas 3 SD. Apa memang benar anakku berbakat?

Itu membuatku bertemu lagi dengan temanku dan ternyata memang ada kemungkinnan dalam diri anakku berbakat. Aku mulai sangat memperhatikan perkembangan belajarnya. Tetapi yang membuatku bersedih, dia tidak banyak teman. Katanya memang itu hal yang biasa. Anak berbakat memang mempunyai kelemahan dalam hubungan sosial. Aku tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Aku tidak menginginkan anakku tertinggal pergaulannya dengan teman-temannya. Meskipun yang aku tau dia mampu mengatasi hal itu.

Tanpa berfikir panjang, aku bolos mengajar untuk datang ke sekolah anakku. Aku ingin bertemu dengan guru sekolah Denny. Aku ingin mengetahui banyak hal tentang Denny di sekolahnya.

Denny lebih banyak diam di kelasnya. Akan tetapi Denny siswa yang sangat cerdas. Denny mampu memperoleh nilai yang sangat bagus dibandingkan dengan teman-temannya. Diamnya tersebut dia tidak mempunyai banyak teman Bu. Dia lebih senang bermain sendiri. Tapi ibu jangan khawatir akan hal  itu, mungkin denny belum bisa  menyesuaikan dirinya dengan teman-temanya, hanya butuh waktu saja mungkin bu, saya yakin dengan kekreativan yang dimiliki denny dia akan mempunyai banyak teman nantinya.

“Sebelumnya, saya minta maaf untuk menyampaikan hal ini kepada ibu. Sekian lama saya memperhatikan Denny. Denny bukan siswa yang aktif Bu. Denny lebih banyak diam di kelasnya. Akan tetapi Denny siswa yang sangat cerdas. Denny mampu memperoleh nilai yang sangat bagus dibandingkan dengan teman-temannya. Diamnya tersebut dia tidak mempunyai banyak teman Bu. Dia lebih senang bermain sendiri. Tapi ibu jangan khawatir akan hal itu. Denny mungkin belum bisa menyesuaikan dirinya dengan teman-temanya. Hanya butuh waktu saja mungkin Bu. Saya yakin dengan kreatifitasnya yang dimiliki Denny, dia akan mempunyai banyak teman nantinya,” kata Wali kelas Denny padaku.

Memang benar adanya. Tidak hanya di lingkungan rumah, tenyata di sekolah pun Denny tidak banyak bersosialisai dengan teman-temanya.

Aku mulai bertanya-tanya lagi. Bagaimana cara agar anakku tetap tidak tertinggal untuk masalah pergaulan, meskipun dia memiliki hal yang istimewa. Aku mulai membaca banyak buku tentang hal ini. Sedikit aku mulai mengarahkan anakku untuk menyukai bermain di luar.

Awalnya aku bingung memulai dari mana. Apalagi anakku yang telah terpengaruh dengan kebiasaanya yang suka sediri. Aku mulai banyak bicara dengan anakku. Mulai melatihnya untuk berkomuikasi yang banyak denganku. Aku bertanya ini-itu kepadanya. Dari apa yang ia kerjakan, bagaimana dia bisa membuat aneka ketrampilan, dan keingintahuanku terhadap ketrampilannya. Dia memang senang belajar sendiri, tetapi karena aku juga mendukungnya, aku mengenalkannya dengan dunia yang ia sukai. Dia bisa belajar banyak di situ.

Aku melihat beberapa kemajuan darinya. Dan yang aku sukai, dia sudah tidak lagi suka menyendiri, tetapi dia mampu menghadapi dunianya.

Dia kemudian saya ikutkan ke beberapa kursus. Dari kursus-kursus yang diikutinya, tentunya dia sendiri yang memilih tempatnya. Aku hanya mengarahkan saja. Aku melihat beberapa kemajuan darinya. Dan yang aku sukai, dia sudah tidak lagi suka menyendiri, tetapi dia mampu menghadapi dunianya.

Itu semua adalah caraku untuk anak berbakatku. Tentunya dengan tangan orang lain juga, aku mampu membuatnya tidak hanya berbeda tapi istimewa.

#cerita ini ditulis dari pengalaman ibuku sendiri tentang adikku tersayang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here