Alhamdulillah, Saya Terlahir di Desa

0
182

Di sekitar tahun 90-an, ketika sekolah masih mengandalkan papan tulis hitam, dan kapur gamping sebagai alat tulis penunjang belajar di kelas, kala itu juga setiap satu minggu sekali ada jadwal setoran hafalan Matematika “Pipo Londo” (Ping, Poro, Lan, Sudo) yang berarti perkalian, pembagian, penambahan, Pengurangan.

Juga setiap senin pagi guna mengawali kegiatan pembelajaran di sekolah ada apel pagi upacara bendera dengan membaca Pembukaan UUD ’45 dan Pancasila secara berjamaah. Meskipun tidak sedikit yang pingsan karena tak tahan berlama-lama berdiri di bawah terik matahari, apalagi jika belum sarapan pula. Para korban berjatuhan seperti pohon pisang yang rubuh oleh hempasan benda berat atau tiupan angin yang mobat-mabit.

Di dalam proses pembelajaran-pengajaran yang serba manual itu, guru menulis di papan tulis, murid mencatat di buku tulis secara balap, cepat. Seperti berpacu dalam perlombaan. Terkadang guru memberi motivasi menulis cepat dengan berkata begini: “Nak, jika kalian bercita-cita tinggi ingin kuliah, percepat cara menulis kalian. Karena nanti saat kuliah harus pintar mencatat dan menulis”. Saya masih ingat pesan tersebut. Karena papan tulis terbatas dan guru harus segera menyelesaikan halaman buku yang lain. Setelah selesai menuliskan dan menjelaskan semua materi, guru memberi waktu kepada murid untuk membacanya.

Lima belas menit sebelum lonceng besi dibunyikan sebagai penanda waktu istirahat/pulang guru memberi “kuis pelajaran”. Saya tidak tahu apakah sejak dulu kala sudah ada istilah kuis di sekolah, atau hanya ikut-ikutan TV, karena setiap hari yang paling digemari untuk ditonton adalah sinetron Tersanjung yang entah sampai berapa episode karena bertahun-tahun, dan Kuis Famili 100 yang dipandu oleh Sony Tulung. Saat guru memberi kuis jika ada yang bisa menjawab akan diberi apresiasi oleh guru, yang paling sering apresiasinya berbentuk pembolehan pulang paling awal atau istirahat lebih dulu,  jika salah menjawab maka penghapus papan tulis yangg ngethel, penuh dengan debu kapur itu diusapkan oleh sang guru kepada muridnya. Alangkah nelangsanya murid tersebut. Setiap istirahat atau pulang sekolah pipinya selalu putih seperti menor bersolek bedak.

Jam istirahat atau jam pulang sekolah selalu terlewati dengan canda tawa teman sebaya. Saat jam tidur siang seringkali saya dan teman-teman pergi ngeluyur di siang bolong, bermain sesuai musim. Jika musim angin yang stabil berarti kami bermain layang-layang. Jika air sungai mengalir deras jadwal mandi di sungai menjadi pilihan. Jika musim jagung atau menjelang tanam kami berburu jangkrik. Pun dengan benda-benda mati kami juga memanfaatkan untuk dijadikan permainan, mulai bungkus rokok yang ditumpuk dan dilempari dengan batu kali yang disebut Ciwuk atau Benthek Ganco, kelereng yang digiring ke lobang di tanah memakai jari disebut Gendhiran, karet gelang yang ditembakkan ke kayu di tanah disebut Jepretan, kayu berjodoh atau sering disebut Enthik, batang bambu yang dijadikan Egrang. Gobak sodor, Jumpritan petak umpet, Sentrengan, dll. Sangat kreatif dan kaya imajinasi.

Kemanakah kalian yang dulu sepertemanan denganku? Dua diantara sekian teman karib sekaligus tetanggaku sudah mendahului pergi menghadap yang maha kuasa. Semoga Allah merahmati mereka. Bukan hanya saat bermain saja kami bersama-sama, tapi saat hari raya Idul Fitri pun kami keliling bersama, biasanya disebut “Ba’dan” Anjangsana Lebaran, baik bersepeda maupun berjalan kaki, sowan ke tetangga, guru-guru, kiai-kiai, dan sesepuh desa.  Uang angpau lebaran kita kumpulkan untuk beli majalah/buku.

Sekarang mungkin anak seumuran 6-7 tahun sudah sangat asing mendengar nama-nama permainan di atas. Lebih akrab dengan permainan elektronik, dunia maya, medsos, game online dll. Apalagi anak di perkotaan, jangankan anjangsana lebaran, bermain bersama dengan teman sebaya pun sulit ditemui. Dulu “Majalah Bobo” adalah bacaan tren kami di tahun 90 an. Atau buku “Siksa Neraka”, hehehe… Terbitan CV. Pustaka Agung Harapan Surabaya. Sekarang apa yang dibaca oleh  anak-anak?

Saya masih ingat bahwa setiap sore kami berbondong-bondong pergi ke “Sekolah Sore”, kalau sekarang TPQ. Kami belajar membaca Al-Qur’an melaui Iqra’ dan kemudian buku “Jilid”, ya kami familiar dengan nama buku jilid yang di sampulnya tertulis “Cara Belajar Santri Aktif, CBSA”. Jika ada seorang santri yang lumayan pintar dan lancar baca tulis hijaiyahnya bisa langsung naik kelas tanpa menunggu pergantian tahun. Untuk mengkhatamkan seluruh jilid itu harus dilalui sampai 6 tahapan atau sekitar 5-6 tahun. Jika jilid 6 sudah khatam maka naik menuju kelas 1 diniyah, yang diajarkan di kelas diniyah adalah kitab-kitab akhlak, aqidah dan mufrodat ; Ala laa, Aqidatul Awwam, Ngudi Susilo, Akhlak lil Banin_Banat, Fasholatan, Ra’sun Sirah, dll.

Hal yang paling berkesan saat “Sekolah Sore” adalah ketika berangkat dan pulangnya, karena kami pasti balapan sepeda. Sampai di rumah pasti bercucuran keringat. Sepeda BMX adalah yang paling digemari oleh para bocah rider. Kalau untuk anak yang kurang gaul biasanya pakai sepeda Federal, yang lumayan ngetren di kalangan cewek-cewek adalah sepeda Mini, mereknya Phoenix tapi lebih familiar disebut Mini.

Saat matahari menuju peraduan, bersiap tenggelam bersama hilangnya cerah awan, para bocah bersiap berangkat menuju langgar. Entah magnet  apa yang membuat kami sangat erat dan lekat dengan langgar. Karena hampir semua anak sebaya kami waktu itu, baik yang rajin sekolah maupun nakal gak ketulungan, kami semua sangat semangat jika mau ke langgar. Setelah shalat maghrib kami sorogan; Yang sudah bisa baca Al-Qur’an setoran baca Al-Qur’an per ‘Ain, maksudnya dimulai dari kode huruf ‘ain di pinggir sampai di ‘ain berikutnya.

Bagi yang belum lancar baca Al-Qur’an masuk kelas ngaji Turutan  atau metode Al-Baghdadiyah, semacam cara belajar membaca mengeja huruf-huruf Al-Qur’an lengkap dengan cara baca, tajwid dan makhrajnya, terdapat Juz Amma juga di dalam Turutan tersebut. Generasi Turutan adalah santri di era 80 dan 90 an. Generasi Turutan adalah generasi santri yang tau cara membaca Al-Qur’an dengan baik, baik segi makhraj maupun tajwidnya. Karena bagi Generasi Turutan  membaca Al-Qur’an bukan seperti membaca koran atupun Novel.

Sambil menunggu adzan isya’ bagi yang sudah selesai mengaji langsung membuka buku-buku pelajaran sekolahnya. Jika ada PR yang tidak paham cara pengerjaannya bisa langsung bertanya ke kakak kelas atau mas-mas di langgar. Setelah shalat isya’ ada ngaji diniyah diperuntukkan bagi yang sudah khatam setoran bacaan 30 juz Al-Qur’an. Dan ngajinya sampai larut malam. Untuk yang tidak ngaji diniyah, biasanya bermain, ada juga yang belajar. Jika lelah langsung tidur, berjajar seperti ikan pindang yang baru selesai digarami.

Tak lupa pasti ada cerita-cerita sebelum tidur. Bagi yang sudah senior pasti punya banyak perbendaharaan cerita, baik humor maupun horor. Jika cerita humor yang sedang disampaikan, pasti gelak tawa selalu menggema. Jika cerita horor yg disampaikan, sarung jadi pelampiasan. Dan mata langsung terpejam. Begitu fajar datang. Shalat shubuh telah ditunaikan kami semua bergegas pulang ke rumah. Inilah  hari-hari kami.

Begitulah masa kecil saya di Blitar, daerah kecil yang tak begitu menghiraukan pembangunan dan modernisasi. Desa adalah kekuatan, inspirasi, pondasi, dan perwatakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here