Alhamdulillah, Ada Ujian COVID-19

0
125

0Shares
0

Betapa keburukan atau musibah yang dulu pernah kita anggap merugikan akhirnya kita sekarang tahu bahwa sebenarnya menguntungkan kita. Pun dengan adanya Covid-19 ini. Banyak orang yang stres berat menghadapi virus ini karena memandangnya sebagai sesuatu yang merugikan, namun sudahkah kita pandai menelaah apa yang terjadi saat ini?

Kampusdesa.or.id–Banyak orang memandang bahwa pageblug Covid 19 adalah musibah yang merugikan. Banyak orang yang stres berat menghadapinya karena memandang bahwa Covid 19 adalah merugikan. Pemilik warung dan kafe mengeluh karena sepi pelanggan, baru ada dua tiga pengunjung sudah diusir oleh aparat keamanan. Pemilik pabrik merasa rugi karena pemasaran produknya macet. Driver taksi, angkutan umum dan ojol (ojek online) mengeluh panjang pendek karena jarangnya orang berpegian. Pemain perdagangan uang di bursa saham stres berat ketika harga sahamnya terjun bebas bersama-sama nilai tukar rupiah. Hampir semua yang menganggap sebagai musibah dan mengalami kerugian bertanya setengah protes pada Tuhan: “Why me my God?

Marilah kita ubah mindset kita. Karena kalau kita menganggap itu musibah yang merugikan maka kerugianlah yang sebenar-benarnya diperoleh, baik secara matematis finansial bisnis maupun kondisi kesehatan fisik dan psikis. Kondisi psikis yang stress berat tentu akan berpengaruh pada kesehatan fisik. Tekanan darah naik, makan tidak teratur, tidak bisa tidur karena memikirkan kerugian dst yang akan menyebabkan sakit secara fisik.

Kenapa kok kita tidak berpikir positif?

Berpikir positif? Lha wong sudah jelas rugi mana ada positifnya?

Jangan asbun, iya kamu bisa bicara begitu karena kamu gak merasakan betapa uang saya ratusan juta lenyap dalam sekejab. Iya kamu pensiunan, setiap bulan ada pensiun, la saya makan hari ini saya juga harus cari hari ini!

Allah akan memperlakukan kita sebagaimana sangkaan kita kepadaNya.

Oke, langkah pertama marilah kita khusnudzon pada Sang Pengatur Kehidupan, karena Allah akan memperlakukan kita sebagaimana sangkaan kita kepadaNya. Marilah kita berprasangka baik, bahwa pasti ada hikmah di balik musibah yang menimpa kita.

Hikmah pertama, ini adalah ujian yang memberikan peluang pada kita untuk naik kelas. Naik kelas? Seperti anak sekolah saja, aku ini udah bukan anak sekolah lagi tahu?

Bukan hanya anak sekolah saja yang mengalami ujian, bahkan dalam kehidupan kita setiap detiknya kita mengalami ujian, sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut ayat 2, bahwa setiap orang yang menyatakan dirinya beriman masih perlu diuji oleh Allah keimanannya tersebut, apakah omdo atau diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan?

Allah akan memberikan kegembiraan bagi mereka yang lulus ujian yang dijelaskan dalam Al Baqarah ayat 155, dan ujian itu hanya “sedikit” ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Bukankah saat ini kita ketakutan akan virus Covid-19 baik secara langsung berupa penyakitnya maupun yang tidak langsung berupa resesi ekonomi? Bukanlah kalau kita melakukan social distancing, tidak keluar dari rumah lalu kita akan dapat makan darimana?

Seberapa kelaparankah kita? Pernahkah kita mengganjal perut kita dengan 3 buah batu agar tidak terasa lapar sebagaimana yang dilakukan Rasulullah?

Bagaimana dengan kerugian saya? Tidak bisa keluar rumah? Nilai saham saya yang terjun bebas? Percayalah matematikanya Gusti Allah berbeda dengan matematika finansial bisnis neraca rugi laba. Berniaga dengan Allah dijamin pasti beruntung.

Hikmah kedua, apapun yang terjadi marilah kita syukuri. Dengan bersyukur, secara fisik dari ilmu kesehatan akan menurunkan tensi darah, akan meredakan ketegangan, tidak memicu hormon ketegangan, tidak memicu produksi asam lambung. Apablia “benar-benar” ada kerugian, baik dalam hitungan rupiah, waktu atau tenaga, marilah kita niatkan sebagai amal ibadah kita, dan kita percaya bahwa semua yang kita amalkan dalam ibadah maka Allah akan menggantinya berlipat ganda. Jangan bandingkan “kerugian” yang kita alami dengan rezeki yang kita peroleh secara apple to apple, rugi sekian rupiah akan mendapat ganti sekian rupiah, tetapi rezeki berupa sehat, keluarga yang sakinah mawadah warahmah itu juga rezeki yang tiada bisa terhitung nilainya.

Kita syukuri apapun yang terjadi, meskipun itu menurut “kacamata” kita merugikan. Jangan-jangan seandainya tidak rugi, melainkan untung berupa rupiah, keuntungan itu malah membuat kita berbuat maksiat dan dosa.

Marilah kita ubah mindset kita tentang harta yang kita miliki. Pandangan kita bahwa deretan angka yang ada dalam rekening kita adalah milik kita adalah salah, karena ketika kita mati, tidak kita bawa dan tidak bermanfaat dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada pertanyaan di akhirat berapa banyak deretan angka dalam rekeningmu, melainkan yang ditanyakan adalah dari mana hartamu itu dan kau gunakan untuk apa. Dengan demikian maka yang menjadi harta kita yang sebenarnya adalah harta yang sudah kita amalkan di jalan Allah.

Hikmah ketiga, yang terjadi adalah yang terbaik menurut Allah karena Allahlah yang Maha Tahu. Sering kita frustasi karena doa memohon sesuatu yang terbaik menurut kita tidak dikabulkan, malah yang terjadi bertentangan dengan yang kita kehendaki. Seperti contoh ysng saya ungkit di atas, jangan memandang kerugian yang terjadi itu menghilangkan uang kita, namun hendaklah dipandang, seandainya keuntungan yang saya peroleh maka tidak menutup kemungkinan saya akan berbuat maksiyat.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita, betapa keburukan atau musibah yang dulu pernah kita anggap merugikan akhirnya kita sekarang tahu bahwa sebenarnya menguntungkan kita. Sebagai manusia biasa, saya pun pernah punya perasaan itu dulu sekali. Ketika putus dengan pacar, kita menganggap sebagai musibah. Saya pun malah pernah protes sama Gusti Allah, why me Gusti Allah? Mengapa Engkau putuskan ikatan suci batin ini? Bahkan saya pernah merasa dunia ini kiamat akibat keadaan yang membuat putus hubungan.

Ingat itu saya jadi malu pada Allah dan sangat bersyukur.

Setelah beberapa puluh tahun kemudian, saya benar-benar merasa bahwa istri saya sekarang inilah yang terbaik menurut saya. Ternyata yang sangat saya kasihi dan paling saya harapkan menjadi pendamping saya itu sudah mendahului saya hampir 20 tahun lalu. Jathuko (seandainya)? Ingat itu saya jadi malu pada Allah dan sangat bersyukur saya dijodohkan dengan wanita yang memberikan segalanya selama hampir 50 tahun pernikahan kami.

Karena itu, sahabatku, marilah kita move-on atau hijrah dari rasa menyesal, marah, putus asa ke rasa bersyukur kita diberi ujian Covid-19 ini karena kita bisa naik kelas menjadi lebih beriman dan bisa mensyukuri apapun yang terjadi karena yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah SWT

Turen, hari pertama Sya’ban 1441 H

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah