Akademisi Militan, Menguji Konsistensi Kebenaran

0
56
Kematian Socrates. Lukisan oleh Jacques-Louis David, 1787 / Metropolitan Museum of Art, New York. Sumber : http://brewminate.com/gadfly-on-trial-socrates-as-citizen-and-social-critic/

Apakah yang anda ketahui tentang akademisi militan? Apakah ada akademisi yang tak punya militansi. Dan apakah anda bisa membedakan bagaimana akademisi militan dengan akademisi pesanan. Yang pasti akademisi militan itu bukan tentang wajah yang etis, bukan pula wajah yang sopan, apalagi wajah plonga-plongo. Akademisi yang militan itu independen, berintegritas dan etis ketika menganalisa dan mengkritik. Itu artinya, ia dapat dipercaya. Akademisi militan adalah kemampuan berada dalam teruji secara konsisten terhadap kebenaran yang dimiliki.

Misalnya saja, kini Capres dan Cawapres-nya sudah ada. Sebagai akademisi maka ujilah mereka. Bila perlu, kritiklah mereka dengan sepuas-puasnya, kritiklah setajam-tajamnya. Tapi ingat harus dengan argumen bukan karena sentimen. Karena benci itu artinya bukan tidak memahami, tapi tak mau mengerti. Dan ingat, masa depan tidak bisa datang hanya dengan mencari-cari kesalahan orang di masa lalu. Karena ia bisa tiba, apabila sudah ditemukan kemungkinan-kemungkinan jalan yang bisa di buka untuk di tempuh. Begitulah semestinya watak akademisi yang berpihak pada akal sehat. Yakni, jeli melihat argumen yang keliru supaya diganti dengan argumen yang bermutu.

Jadi kritik dia, maki dia, debat isi kepalanya, meski ia dari kalangan santri. Telanjangi argumentnya, nyiyiri terus Caper-nya, (sekali lagi) Caper bukan Capres. Ajuhkan dalil dan prasangka meski dari kalangan anak muda melenial. Karena akademisi yang cuma bisa memuji-muji dan mau menjadi buzzer saja, kalau tidak bisa di sebut; akal sesat karena fanatik, maka bisa juga di sebut penghiyanat akal sehat.

Negeri ini didirikan dengan akal sehat, bukan dengan plonga-plongo. Tapi politik hari ini justru membuat masyarakat menjadi dongok dan lekas marah-marah tanpa arah. IQ nasional jongkok. Dan tambah diperparah dengan Akademisi pesanan dari penguasa. Bisa diskon 50% pula. Seharusnya akademisi tidak begitu. Seharusnya mereka hanya loyal pada kemanusiaan. Karena itu mereka melakukan analisa dan kritik. Dan bukannya malah seperti kakak kandung melindungi adiknya dengan membawa senjata power-point tentang elektabilitas murahan, penjelasannya panjang. Artinya untuk menipu rakyat. Bersorak-sorak “kerja, kerja, kerja” membantu rakyat, Sambil ceramah hoax dan kesalahan-kesalahan masalalu. Itu sama saja seperti memperlihatkan bahwa adik kandung yang sedang dibela itu tidak bisa jawab sendiri, karena akalnya tak ada isi. Pendek kata, Seakan-akan akademisi itu adalah kakak dari pemerintahan yang plonga-plongo, dan tidak punya integritas. Seakan-akan akademisi itu anjing pelacak, pihak oposisi, yang gonggongkan sentiment bukan argument.

Akademisi yang militan, tidak akan lebih memilih minum cemara beracun daripada menjual integritasnya pada kekuasaan. Adalah Socrates, sebagai seorang akademisi, ia dikenal karena pikiran-pikiran cerdas dan kejenakaannya. Sebagian besar yang bisa kita ketahui tentang Socrates berasal dari Dialog karya Plato, muridnya, dimana percakapan di antara guru dan murid ini mengenai subyek Filsafat telah di catat.

Socrates berkeyakinan bahwa manusia itu ada untuk suatu tujuan, dan bahwa benar dan salah itu memainkan peran penting dalam menentukan relasi seseorang dengan lingkungan hidupnya dan dengan orang lain. Bahkan Socrates juga berkeyakinan bahwa kebaikan itu berasal dari pemahaman diri, bahwa orang pada dasarnya jujur, dan bahwa kejahatan adalah usaha yang menyimpang untuk memperkaya kondisi pribadi. Kita berkali-kali dengar Semboyan socrates, “kenalilah dirimu sendiri.”

Socrates berkeyakinan bahwa Pemerintahan Ideal itu melibatkan orang bijaksana (akademisi), disiapakan secara semestinya, dan memimpin demi kebaikan masyarakat.

Socrates berkeyakinan bahwa Pemerintahan Ideal itu melibatkan orang bijaksana (akademisi), disiapakan secara semestinya, dan memimpin demi kebaikan masyarakat. Ia juga percaya pada ide kekuatan tunggal yang terfokus dan kekuatan transenden tersembunyi di balik dunia alam, sebuah pendapat yang bertentangan dengan keyakinan konvensional terhadap dewa-dewa pantheon. Hal itulah akhirnya mengarah pada penahanannya dengan tuduhan merusak kaum muda Athena.

Pengadilan terhadap Socrates dikisahkan oleh Plato dalam karya Apology dan phadeo, yang telah menjelaskan percakapan socrates bersama para siswanya saat ia sedang berada di dalam penjara. Setelah pengakuannya, ia diperbolehkan untuk melakukan bunuh diri dengan meminum hemlock (cemara beracun).

Maka Seharusnya para Akademisi militant itu seperti itu. Meski karya Socrates sebenarnya langka, namun karena militansinya, karyanya dan hidupnya tetap bertahan sepanjang masa tertuang dalam tulisan-tulisan Plato dan Xenophon, kurang-lebih sejak 430-357 SM.

Rifki Rahman Taufik. Pendiri Progresif institut

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here