Ahmad Dahlan dan Arah Kiblat

0
122

Saat itu tahun 1897, diskusi panas antara Ahmad Dahlan dan ulama keraton makin menjadi. Laku Masjid Keraton yang begitu sacral dianggapnya telah menyalahi tata kiblat. Dan semua orang mulai jengah. Beberapa kiai mengangguk, setuju, tetapi tak sedikit yang berhaluan lain dengan argument Ahmad Dahlan: bahwa kiblat Masjid Keraton Yogyakarta terlalu lurus ke barat. Afrika!

Kampusdesa.or.id — Belum menemukan titik temu, maka Sang pencerah datang mengadukan masalah ini kepada kepala penghulu keraton, K.H. Muhammad Chalil Kamaludiningrat, karena ini bukan hanya berhubungan dengan ahli tidaknya seseorang, ini adalah masalah ibadah wajib. Jika ada syarat dan ketentuan tak terpenuhi, batal. Konsekuensi yang berat. Namun, tak juaa beliau memberi restu.

Karena pengubahan arah kiblat menjadi titik jenuh K.H. Ahmad Dahlan dalam menyikapi problem multidimensi masyaratnya, suatu malam, sebagai pertanggungjawaban seorang yang paham, murid-murid Ahmad Dahlan tanpa sepengetahuan beliau beranjak menuju Masjid Keraton yang telah sepi, menyematkan garis-garis putih di bilah-bilah shaf, meluruskannya hingga tegak menghadap Mekkah, bukan lagi ke Afrika. Wacana itu mereka nyatakan.

Esoknya, para pembesar keraton gerah, ini dianggap pelanggaran besar nan patut dikecam. Dan akhirnya, Ahmad Dahlan juga yang kena sasarannya. Beliau harus membayar peristiwa yang sama sekali tak diketahuinya itu dengan dilepasnya jabatan Khatib Amin Masjid Keraton Yogyakarta. Namun, sama sekali beliau tak menyalahkan murid-muridnya, yakin bahwa inilah scenario Allah.

Dan di situlah titik mula pembeda

Pada mata manusia, pemecatan itu tidaklah menjadi untung bagi K.H. Ahmad Dahlan, justru menjadi momok perbincangan negatif. Namun, di situ kembali  Allah mengulang sunnatullahnya. Justru dari situ golongan muda bangkit dan telah menemukan pusat pusarannya. Dan dengan keberanian K. H. Ahmad Dahlan menjadi pusat pusaran gelombang perbaikan yang radiusnya berlabuh sampai ujung-ujung nusantara. Muhammadiyah namanya 18 November 1912 disebut-sebut para sejarawan sebagai dampak gelombang Tajdid Raksasa yang bermula dari Mesir.

Berbicara tentang Ahmad Dahlan dan gagasan beliau yang heroic, kita seakan juga diminta menengok Sirah Nabawiyah semua nabi yang kesemuanya mempunyai laku benar, berjuang akan mendapat tantangan yang sama: tradisi yang mengikat, budaya yang tak layak, fanatisme duniawi yang menjadi-jadi. Dan, terjadilah manusia pilihan ini menjalani hari mereka dengan keberanian, cinta dan pengharapan besar pada pertolongan Allah.

Bukan keputusan sepele ketika Ibrahim muda mengapak patung-patung di sekitar kuil Namrudz. Beliau tahu apa yang nantinya terjadi dan risiko yang kelak terasa. Namun, beliau juga selalu tahu bahwa janji Allah benarlah adanya.

Bukan pula sembarangan Nabi Musa a.s menghadap presiden Mesir kala itu Fir’aun dan mengajaknya dengan kelembutan menuju Danullah. Beliau tahu apa nanti yang akan menghadangnya. Beliau telah paham situasi dan kondisi social yang nanti akan menyudutkannya. Namun, beliau juga selalu tahu bahwa janji Allah benarrlah adanya.

Apalagi Rasul nan cemerlang kebenarannya, Nabi Muhammad Saw. Gelar Al-Amin yang dahulu disebut orang-orang ketika memanggilnya, seiring bergantinya waktu berubah menjadi kalimat sumpah seraph dan ketakaburan tiada kira. Rasulullah terkasih tahu apa yang akan menimpanya. Rasulullah yang mulia paham bagaimana respons rakyat menanggapi risalah langit ini. Bahkan, paham betul.

Tanpa keberanian dan keyakinan, bagaimana mungkin  risalah terang benderang itu menggeser telak tradisi jahili.

Namun, jika tanpa keberanian dan keyakinan, bagaimana mungkin risalah terang benderang itu menggeser telak tradisi jahili. Jika para rasul terkasih hanya berpangku tangan dan sekedar berwacana, mana mungkin manusia tahu dan beranjak meninggalkan lembah-lembah nista?

Maka, kata Ustadz Herry Nurdi, unsur cinta dan keberanianlah yang membuat seseorang mempunyai pengikut. Berani mengambil lurus ketika manusia beramai-ramai berbelok, itulah kekuatan yang menjadikan seseorang memiliki daya Tarik. Ia mempunyai ledakan yang debunya dirasakan manusia. Seketika ada yang lari menjauh, ada pula yang mengumpat, dan bagi mereka yang cerdas, berpikir dan mengambil langkah padanya hingga keberanian menjadi kekuatan.

Contohlah hal yang sangat sepele. Ketika suatu hari anak-anak SD tidak mau disuntik pada hari kesehatan, adalah seorang anak pemberani dating kepada dokter, lalu dengan mantap berkata, “Dok, saya mau disuntik.”

Satu, dua, tiga… lima detik. Sang anak pemberani turun dari dipan, tersenyum bangga melihat kawan-kawanya, pandangan matanya seakan berkata, Nih, aku aja nggak apa-apa. Dan berbondonglah anak-anak lain bergiliran ingin disuntik.

Keberanian untuk mengawali

Atau juga, kadang perhatikanlah saat-saat menunggu lampu merah. Semua kendaraan taat dan patuh. Namun, estetika ketaatan dilacur dengan abainya salah seorang pengendara motor. Tanpa tedeng aling-aling langsung menembus lampu merah. Lampu merah belum berganti hijau, tetapi terlihat beberapa kendaraan mengikuti “keberanian” sang pengendara motor pertama tadi. Suasana jadi buyar.

Keberanian dalam keburukan

Pada hakikatnya, di sinilah letak tinggi rendahnya daya pikat seseorang. Ibarat umat manusia adalah gelombang-gelombang, maka manusia yang berani adalah pusat pusaran air itu. Ada banyak sekali pusaran-pusaran di muka bumi ini, entah itu pusaran kebenaran atau kebatilan. Keduanya saling berebut arus dan pengikut. Pusat-pusatnya saling adu berani. Siapa yang paling berani menantang peradaban, maka manusia akan terperangah dan mengikuti jejaknya.

Di situlah, nabi-nabi kita terkasih adalah manusia paling berani di masanya. Tokoh-tokoh baru yang besar adalah manusia berani yang mengolaborasikan wacana dan tindakan bersama-sama.

Maka, bagaimana dengan kita? Seandainya saat itu kita adalah Ahmad Dahlan dan murid-muridnya, beranikah kita mengambil langkah memugar garis shaf yang dianggap “sacral” itu? Atau mengalah saja dan biarkan orang tersesat dalam kesalahan bertubi-tubi hingga taka da lagi kebenaran tergema?

Pepatah jawa memberikan hikmah. Jangan menjadi bener ming ra pener. Benar tetapi tidak pada tempatnya. Kita paham bahwa ada hal yang salah, kita paham bahwa ini itu belum benar.

Dan, pepatah jawa memberikan hikmah. Jangan menjadi bener ming ra pener. Benar tetapi tidak pada tempatnya. Kita paham bahwa ada hal yang salah, kita paham bahwa ini itu belum benar. Namun, gerakan islah harus disesuaikan dengan kondisi kita. Kita sedang jadi apa, kita sedang berstatus apa, kita sedang punya kedudukan apa. Karena asas ajakan terbaik adalah dengan kasih saying dan nasihat peluh hati, eloknya.

Berani itu hidup. Hidup harus berani. Dan tentu karena Allah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here