Agility dan Bonus Demografi

0
133

Subbanul Yaum Rijalul Ghod; Pemuda saat ini, Pemimpin masa depan, begitu kata pepatah arab yang begitu magis dan monumental itu. Begitu juga dengan ucapan Bapak Revolusi kita, yang dengan begitu heroik Presiden Sukarno menyampaikan, “Berilah aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengajaknya merubah dunia”. Setidaknya kedua hal tersebut bisa kita jadikan rujukan betapa harapan begitu banyak ditumpuhkan kepada pemuda pada zamannya, seperti halnya pada saat ini, para pemuda atau yang biasa disebut generasi milenial begitu sangat diharapkan peran dan sepak terjangnya dalam membangun Indonesia.

Disisi lain, Indonesia memiliki permasalahan yang seakan tiada berujung hingga usia republik ini mencapai 72 tahun.  Hampir setiap hari di media cetak maupun elektronik bisa kita saksikan ada saja masalah yang diberitakan, mulai dari masalah ekonomi, politik, hukum, budaya, pertahanan dan keamanan, dan seolah masalah yang menimpa bangsa Indonesia tanpa ujung dan tidak mungkin bisa diperbaiki lagi. Belum permasalahn daya saing negara kita dengan negara lain dalam dunia global, perkembangan dan kecepatan dunia yang begitu sangat cepat, perubahan seakan tidak bisa diprediksi lagi, anomali sekan bisa terjadi kapan pun dan dimanapun dan Indonesia pun menghadapi tantangan eksternal yang tidak mudah untuk bisa terus survive dan berkompetisi dengan negara lain.

Namun, yang patut kita syukuri bersama adalah bersamaan dengan masalah tersebut, Indonesia diberikan potensi besar saat ini yaitu adanya jumlah usia produktif (Bonus Demografi) yang berada pada posisi puncak yang berdasarkan data BPS, jumlah usia produktif telah mencapai 70% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, dan sudah diketahui bersama bahwa bonus demografi merupakan kesempatan (window of opportuniy) Indonesia untuk mencapai kejayaan pada usia satu abad nanti di tahun 2045, dengan syarat para generasi milenial tersebut memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan untuk bisa berkompetesi di zamannya, dan salah satu kualifikasi itu selain kualitas sumber daya manusia adalah kelincahan atau Agility.

Agility dalam bahasa populer diartikan sebagai kemampuan untuk berubah dengan cepat dan mudah, melihat perubahan yang terjadi begitu cepat, untuk bisa hidup dan berkiprah dalam kanca Internasional maka para pemuda harus memiliki personal agility, karena hal tersebut sebagai modal awal untuk bisa melakukan transformasi lainnya.

Pada dasarnya negara Indonesia Indonesia secara alamiah merupakan sekolah alam yang luar biasa potensial untuk mendidik seseorang untuk memiliki personal agility, lihat saja alamnya, Indonesia secara geografis terletak pada posisi yang strategis diantara para negara sahabat, selain itu sosio antropologi masyarakanya pun begitu beragam, kekayaan sumber daya alam yang begitu melimpah. Potensi yang semacam itulah yang mampu menyajikan berbagai tantangan atau pendidikan kepada generasi bangsa untuk terus dinamis dan menemukan personal Agility.

Sejarah  negara-negara besar dunia, menyebutkan dengan jelas bahwa kiprah pemuda selalu saja digoreskan dengan tinta emas termasuk juga di Indonesia, kita ketahui bersama sejak era merebut kemerdekaan hingga tercapainya cita-cita bersama bangsa Indonesia yaitu kemerdekaan, peran serta pemuda seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Satu peristiwa besar yang terjadi dan menjadi ibrah adalah Sumpah Pemuda, peristiwa tersebut merupakan sublimasi dari personal agility yang dimiliki pemuda saat itu yang terangkai satu sama lain. Kita tentu mengenal para tokoh sumpah pemuda seperti Soegondo Jojopoespito, Moh Yamin, Soenario Sastrowardoyo, WR Supratman, Djoko Marsaid, Amir Syarifudin dan beberapa tokoh lainnnya, kesemuanya tokoh yang disebut diatas telah dikenal memiliki personal agility yang tidak diragukan lagi.

Terdapat ungkapan menarik dari seorang diplomat Perancis Charles Maurice de Talleyrand (Kasali:2014) yang mengatakan “ seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”, ungkapan tersebut menegaskan bahwa agility menjadi aspek utama dalam setiap perubahan besar, dan menjadi jawaban atas kedua adagium yang dituliskan pada paragraf pembuka tulisan ini.

Agility merupakan kekuatan yang tidak nampak (Intangible) pada diri seseorang, pada beberapa perusahaan besar aspek tersebut digunakan untuk melejitkan capaian perusahaan, Indonesia sebagai negara besar dengan modal bonus demografi memiliki potensi menuju kejayaan di masa yang akan datang, apabila modal bonus demografi tersebut dikelolah dengan sebaik mungkin dan menjadi prioritas garapan pemerintah saat ini selain menggenjot aspek infrastruktur. Sehingga para pemuda saat ini akan menjadi pemimpin atau minimal memiliki sifat kepemimpinan yang agile untuk bergerak cepat menuju kejayaan Indonesia emas.Wallahua’lam

(Artikel telah dimuat pada Koran Inspirasi Pendidikan edisi XXVII Minggu I/07-18 Nopember 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here