Adu Kuat Bisnis Gaib

0
83
Sumber: Kompasiana.com

0Shares
0

Kampusdesa.or.id-Seorang teman pernah berkata bahwa bisnis gaib sedang jadi primadona jaman sekarang. Perihal bisnis gaib, coba ingat, apakah Anda pernah melihat seorang pengendara motor berhenti di depan sebuah rumah? Tak lama, terlihat ia menghampiri seseorang yang menenteng tas kresek berisi makanan. Setelah basa-basi sebentar, ia amati gawainya dengan mimik serius. Sejurus kemudian, pengendara motor tersebut menerima tas kresek lalu meluncur ke suatu tempat.

Adegan di atas pasti sering Anda temui, apalagi saat pandemi saat ini. Sambil bergurau, orang-orang menyebutnya bisnis gaib. Apa maksud dari guyonan tersebut?

Model bisnis gaib di atas bukan bermaksud menjelaskan hal-hal mistis semata. Model bisnis ini disebut gaib karena tak jelas siapa yang pesan makanan atau barang, ujug-ujug ada orang yang mengambil lalu mengantar makanan tanpa disuruh, lalu ujug-ujug juga makanan tiba kepada orang yang mendaku diri sebagai pemesan.

Model bisnis gaib ini memang sedang moncer. Bisnis yang bisa berlangsung tanpa tatap muka antara pembeli dan penjual. Perdagangan elektronik (e-commerce), platform pesan antar, keduanya menjadi andalan untuk proses transaksi. Sambil rebahan tanpa takut kepanasan atau kehujanan, kita bisa miliki barang impian, nyaris sejengkal pun tak perlu keluar rumah .

Namun, bisnis gaib ini bukan berarti sepi dari genderang perang. Para pelaku bisnis gaib seakan punya hukum tak tertulis bahwa siapa yang kuat, ia yang menang. Ia yang kuat dalam jaringan bahan baku, produksi dan distribusi bisa tersenyum bahkan tertawa di akhir laga.

Genderang perang nampaknya sudah ditabuh. Kali ini suaranya terdengar dari negeri sebelah, India. Penabuh genderang itu berencana membuka 100 dapur. Rebel Food, begitu mereka menyebut dirinya.

Soal sejarah Rebel Food di India, Anda akan mudah mencarinya lewat dunia maya. Tapi yang jadi poin menarik adalah mereka memilih dapur, alih-alih restoran sebagai titik utama. Mengapa dapur yang notabene berskala kecil, dipilih sebagai perhatian utama dibanding restoran?

Justru dengan dapur, mereka ingin melakukan semacam pemberontakan. Dengan dapur, mereka ingin meruntuhkan status quo restoran yang menyedot banyak modal, ribet dalam pilihan lokasi, menguras banyak waktu untuk administrasi, pajak, hingga urusan tenaga kerja.

Restoran yang identik dengan area luas, lokasi strategis, ketersediaan bahan baku hingga tenaga kerja yang terampil. Hal itu membuat restoran lekat dengan embel-embel modal tinggi. Berbeda dengan dapur yang tak butuh area luas, tak perlu tempat strategis, asal terhubung dengan platform pesan antar untuk menghubungkan mitra pengantar dan penyedia bahan baku, urusan mereka sudah selesai.

Tak heran Gojek berani investasi jutaan dollar pada Rebel Food. Berbekal kompetensi jaringan dapur di atas, cukup rasanya mendompleng kemapanan restoran. Setelah OYO dari India selaku manajemen properti masuk ke Indonesia, kini giliran dapur dari India segera menyusul.

Saling Adu Kuat

 

Kita ingat para pedagang daring ramai berjualan lewat e-commerce. Ribuan hingga jutaan pedagang pemula mencari peruntungan lewat dunia maya. Para pedagang tersebut memajang barang dagangan mereka, membangun branding, tak ketinggalan membangun keramaian pasar dengan mengajak pembeli bertransaksi lewat e-commerce.

Perlahan fenomena di atas disusul oleh para pebisnis besar. Misal, awalnya pedagang pemula kulakan baju dari pabrik, lalu dijual lewat e-commerce. Tak mau ketinggalan dan berusaha menaikkan branding, pabrik baju itu ikut menjual barangnya lewat e-commerce serupa. Hasilnya, pedagang pemula mulai terpinggirkan. Mau tak mau mereka harus kalah dari segi harga atau stok barang. Kondisi menjadi berdarah-darah, kecuali pedagang pemula itu punya produk yang khas, atau hanya ia punya produk yang benar-benar berbeda dari pedagang lainnya.

Sepertinya sejarah terus berulang. Dulu pedagang kecil ramai mengajak pembeli untuk transaksi lewat platform pesan antar. Setelah platform punya pasar sendiri, ia akan bikin dapur sendiri lalu berjualan sendiri. Bisnis memang begitu. Ia yang pintar memanfaatkan peluang akan jemawa di akhir kompetisi.

Gelanggang pertarungan bisnis gaib sudah dibuka. Pemain yang kuat mencitra diri, pemain yang kuat pengelolaan biaya, pemain yang kuat pengelolaan pelanggan, ia akan bertahan dalam pertarungan ini.

Akhir kata, selamat bertarung.